Untuk Temanku

Aku sedang menyukai memikirkan beberapa hal yang sedang kumiliki di dunia ini agar aku bisa bersyukur. Lalu aku memikirkan tentang beberapa kisah manis antara aku dan teman-temanku. Lalu aku memikirkan tentang apa yang telah kuberi pada mereka, dan apa yang telah mereka beri padaku. Lalu pikiran-pikiran yang muncul menggiringku pada sebuah kebersyukuran, tentang betapa hebatnya mereka para komradeku, dan betapa beruntungnya aku memilikinya.

Cinta, tawa, kesetiaan, dukungan, nasihat, pertolongan, kepercayaan, keteguhan, pertalian, kejujuran, penerimaan, pemaafan, dan kasih. Seseorang untuk berbagai setiap hal kecil yang ada di dunia. Ah, hal besar juga!

Mereka menceburkan diri pada hal remeh temeh yang dimiliki orang lain, suka rela. Dan dengan itu mereka dan aku mengenal lebih dalam dan lebih dalam lagi. Oh, betapa perkawanan adalah sebuah keistimewaan.

Persahabatan adalah keistimewaan. Ia tak bisa dipaksa, tak bisa pula didesak. Ia harus dibiarkan tumbuh sejalan dengan waktu yang membesarkannya. Beberapa persahabatan membutuhkan banyak tahun untuk membuatnya besar dan kokoh, banyak yang tidak. Persahabatan adalah seni. Ia harus terus berlatih sebelum ia menjadi sempurna.

Aku memiliki banyak teman di hidupku. Beberapa masuk dan keluar, beberapa ada di sisiku dari masa yang tak lagi kuingat tepatnya. Mereka telah mengajariku sesuatu. Mereka menginspirasiku. Aku mengagumi kebaikan mereka dan melupakan kelemahan mereka. Karena mereka pun begitu padaku. Kepercayaanku terhadap kebaikan manusia tumbuh besar karena adanya mereka.

Wonosobo kabupaten termiskin?

Saya kira kesenjangan ekonomi yang begitu terlihat mencolok hanya ada di kota-kota besar. Di Jakarta, tempat ter-mainstream untuk merantau, anak kecil berlalu-lalang menadahkan tangan sambil mengiba memelas begitu mudah ditemui. Suatu kelaziman. Namun, siang ini, saya sedikit dibuat kaget dengan kejadian yang saya alami di kota kecil kelahiran saya, Wonosobo. Pasalnya, ketika saya dan ibu saya tengah asyik berjalan di trotoar kaki lima sedang ibunda juga sibuk tawar menawar dengan pedagang mangga, seorang anak lelaki usia sekitar 7 atau 8 tahun menghampiri dan menggamit tangan saya. Kaget, dia langsung berkata “Mbak, nyuwun artane.. ngge tumbas maem” (Mbak, minta uangnya..  untuk beli makan). Tangannya menadah dan wajahnya sedikit mengiba. Sempat tak berkata karena otak saya lama mencerna kejadian yang sedang terjadi, saya pun cuma menyikut lengan ibu saya, meminta beliau  yang kemudian menuruti permintaan si adik itu dengan menjulurkan selembar pecahan limaribuan. Si bocah lelaki itu langsung bilang maturnuwun dan berlalu meninggalkan kami.

Masih agak bingung menyusun reasoning puzzle yang tepat atas kejadian barusan, saya pun bertanya kepada ibu, “Buk, di sini sudah banyak ya kejadian begitu?” Kata ibu saya, beliau juga baru menemukan kejadian ini sekali ini. Saya manggut-manggut. Tapi perasaan masih sedikit aneh. Dalam pikiran saya, dalam bayangan saya, di kota sekecil Wonosobo, hal seperti itu adalah hal yang sedikit tak mungkin. Kenapa? Hm.. banyak alasan. Pertama, saya kira mayoritas orang di Wonosobo sejahtera. Paling tidak di beberapa lingkungan yang akrab dengan saya. Lingkungan rumah, lingkungan sekolah, atau lingkungan-lingkungan yang mainstream saya kunjungi ketika pulang kampung ke sini, alun-alun atau RITA, misalnya. Saya kira orang-orang di Wonosobo mampu, ketika saya harus mengantre berjam-jam (oke, ini hiperbola) ketika mau membayar di kasir swalayan dan ternyata mereka memang mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja. Kedua, saya ingat Pak Bupati kami adalah salah satu bupati yang dianggap berhasil membangun kota hingga beliau kerap diundang memberi kuliah di mana-mana. Lihat saja infrastruktur-infrastruktur yang disulapnya menjadi enak dan nyaman. Taman kota, alun-alun… pusat kota yang bagus dan elok. Saya kira hal itu terjadi di seluruh daerah di Wonosobo. Dan ketiga, menurut saya orang Wonosobo itu tipe orang Jawa sejati. Pemalu dan rikuh-pakewuhan. Dan sedikit gengsi. (Oke, sekali lagi ini menurut saya). Saya ingat sewaktu saya masih menjadi bocah SD, saya lupa meminta uang saku kepada ibu. Bekalpun lupa terbawa, padahal hari itu ada kelas tambahan sampai sore. Selama satu hari itu saya bertahan untuk tidak jajan. Teman-teman saya banyak yang sadar bahwa saya dari istirahat jam pertama tidak makan, lalu mereka menawari saya untuk meminjam uang. Saya malu. Dan gengsi. Saya menolak dan berbohong saya sedang puasa. Saya malu jika dikira saya tak punya uang dan butuh dibelaskasihi. Gengsi tingkat anak SD yang ketinggian. Jadi, saya kira anak kecil tadi paling tidak memiliki emosi dan mental yang sama dengan saya saat SD. Anak Jawa asli.

Kembali ke cerita adik kecil tadi. “Kayaknya kalau dilihat dari baju dan wajahnya, dia masih tidur di rumah, ya Bu?” tanya saya retoris. “Iya lah, di Wonosobo nggak mungkin ada yang mau tidur di luar” Ibu menjawab dengan sedikit guyon. Sayapun mesem saja. Berarti kalau saya boleh menarik kesimpulan asal-asalan, si adik itu bukanlah gelandangan yang tidur di emperan atau kolong jembatan seperti kebanyakan yang terlihat di Jakarta. Lalu dengan penalaran-penalaran yang saya sebut di paragraf atas yang ternyata tidak sesuai dengan realita yang baru saya alami, saya kemudian teringat tentang (judul) artikel koran (yang dikirim kawan lewat WhatsApp) yang memberitakan bahwa Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Saya tidak tahu isinya tepatnya seperti apa, walaupun saya akhirnya membaca summary artikel itu saya masih tidak paham dengan istilah ekonomi dan angka-angkanya. Yang jelas yang saya tahu Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah.

Si adik yang dalam pandangan saya bukanlah seorang gelandangan dan pengemis ‘asli’ seperti yang saya lihat kebanyakan di ibukota mungkin adalah salah satu anak yang karena terhimpit oleh keadaan memberanikan diri untuk meminta-minta di jalan yang tak begitu ramai di pusat kota Wonosobo. Keterhimpitan itu pula yang akhirnya menyingkirkan rasa rikuh-pakewuh, malu, dan gengsi a la orang Jawa (stereotipe sih ) untuk meminta belas kasih demi sebungkus nasi, menurut saya. Saya sebenarnya tidak tahu secara pasti seberapa miskin kemiskinan itu di Wonosobo, sehingga kebupaten tercinta ini mendapatkan predikat itu. Namun dengan sekelebat kejadian siang ini sedikit membuka mata saya tentang semiskin itu kemiskinan di kota kecil ini. Sampel yang riil dan sederhana untuk saya, dan bukan angka-angka yang tak saya pahami di artikel koran itu.

Dan, saya kira kebingungan sesaat yang saya alami atas kejadian siang ini semata karena kekolotan saya dan kekuperan saya untuk mengenal daerah ini dengan baik. Saya sempat tercenung, memikirkan betapa saya tidak tahu tentang daerah yang dalam beberapa bulan terakhir ini dengan getol saya (usahakan) bangun dengan organisasi saya, Wonosobo Muda. Hmm.

Siang tadi sebenarnya saya ingin bertanya kepada adik itu tentang dirinya, ah namun sayang ia keburu masuk ke keramaian lorong pasar..

29 September 2015

Mengapa Saya Memakai Itu

Saya tidak pernah menuliskan sesuatu yang bersifat personal mengenai sepotong kain yang perempuan muslim biasa pakai di kepala, hijab, karena saya rasa banyak sekali orang telah membahasnya. Kadang saya rasa fokus yang berlebihan tentang salah satu aspek kecil tentang bagaimana menjadi muslimah ini menutupi pengetahuan-pengetahuan islami lain yang juga penting, atau bahkan lebih penting, masalah tauhid, misalnya.

Karena hijab adalah sebuah simbol visual dari seorang perempuan muslim, maka banyak orang, kebanyakan orang negara Barat sana, membuat hal ini sebagai sebuah isu, kemudian berbicara tentang opini mereka yang tak berdasar, atau bahkan bertanya sebagai usaha mereka untuk memahaminya. Hal ini telah banyak dijawab oleh banyak perempuan muslim, dan bahkan laki-laki, hingga saya kadang merasa tak perlu melemparkan opini saya tentang isu ini juga.

Beberapa hari yang lalu, salah satu mahasiswa saya dari Korea Selatan bertanya tentang mengapa saya memakai ‘itu’ di kepala.  ‘Itu’ adalah hijab. Lalu saya ingat beberapa bulan lalu saya juga sering ditanyai tentang hal yang serupa oleh beberapa teman. Orang asing. Tentang mengapa saya memakai hijab, padahal temannya seorang muslim ada yang tidak memakainya.

Di kelas saya kemarin, saya tidak menjelaskan panjang lebar tentang hijab dan kewajiban kami sebagai perempuan muslim. Namun di sini saya ingin menyampaikan beberapa pikiran saya tentang hijab, sesuai dengan pengalaman dan pemahaman saya. Maksud saya di sini bukanlah untuk menunjukkan bahwa saya superior atas teman-teman lain yang tidak memakai hijab, bukan pula bermaksud untuk sedikit judgemental tentang keputusan mereka. Kita tak pernah tahu apa yang ada dalam diri seseorang dan lingkungannya, bukan?

Saya sebenarnya masih memakai jilbab yang belum sesuai dengan ajaran Islam. Islam mengajarkan untuk menutup seluruh tubuh kita, jadi  hijab yang harusnya dipakai adalah jilbab yang longgar, menutup dada, dan tidak mencetak bentuk tubuh. Saya masih menggunakan jilbab yang ‘normalnya orang Indonesia pakai’. Jilbab segitiga yang disampirkan ke bahu, dan sering dipadu dengan blus biasa dan jins, walaupun saya sudah sering memilih memakai blus yang tidak ketat, tapi jins masih sering membungkus kaki saya. Huff. Walaupun begitu, saya tetap ingin berbagi tentang pikiran dan perasaan saya tentang hijab.

Menutup seluruh tubuh adalah kewajiban. Banyak ayat-ayat dalam Alquran, dan banyak pula sabda Nabi Muhammad  SAW yang mengatakan demikian. Istri-istri dan anak-anak perempuan Nabi dan para sahabat juga telah melaksanakan hal ini sejak jaman dahulu kala. Namun saya rasa, menjawab dengan ‘Hijab adalah sebuah kewajiban’ tidak akan memuaskan pertanyaan mereka para penanya. Jadi sedikitnya ada beberapa hal tentang mengapa saya memakai jilbab dan keutamaannya, menurut versi saya.

  • Menutup kepala (dan diri) dengan hijab adalah salah satu bentuk kesederhanaan. Orang tidak akan nge-judge kita terbatas dari fisik kita. Baik kecantikan atau kekurangannya. Orang akan melihat kita dari apa yang kita sampaikan, apa yang kita bicarakan, bukan dari fisik dan standar kecantikan umum, masalah rambut hitam yang berkilau, misalnya.
  • Sejalan dengan pikiran di atas, maka kecantikan (dan keburukan, sih) saya sepenuhnya akan jadi milik suami saya, nantinya. (Ahem)
  • Dengan menggunakan hijab saya menunjukkan identitas saya. Orang akan tahu saya adalah seorang muslimah dan mereka akan memperlakukaan saya sesuai dengan identitas saya ini.
  • Sebagai pengingat diri. Saya sadar saya bukanlah muslimah yang cukup baik, namun dengan memakai hijab saya berusahan untuk menunaikan kewajiban-kewajiban saya dengan baik.  Hijab ini sebagai reminder tentang kelakuan dan attitude seperti apa yang seharusnya saya lakukan. Saya berusaha berlaku lembut, tidak menyakiti, atau mudah memaafkan. Sekali lagi, saya berusaha, dengan hijab ini sebagai pengingatnya.

Menurut saya, memakai hijab sangat menguntungkan saya. Serasa saya memiliki kebebasan ketika saya memakainya, dan bukan sebuah paksaan_walaupun it’s mandatory in Islam. Jadi dengan begini, satu lagi alasan untuk bersyukur kepada Tuhanku hari ini

Oh, ya, satu lagi. Semoga saya segera bisa berhijrah memakai hijab yang lebih bener. Aamiin.

Sastra untukku..

Sejak menjadi freshman di dunia perkuliahan, aku lebih suka menyebut diriku sebagai mahasiswa bahasa dan bukan mahasiswa sastra, terlepas dari nama jurusanku yaitu Sastra Belanda. Tentu aku tak menyangkal jika aku juga menikmati waktu-waktuku dulu berkutat dengan teks-teks sastra seperti roman jaman kolonial, puisi dari abad keenambelas , atau bahkan teks-teks sastra modern abad keduapuluhsatu. Tapi semuanya kunikmati sebatas sebagai mediaku menemukan kata-kata baru, menemukan frasa baru, atau bahkan untuk mengulik tata bahasa yang kadang tak kumengerti di buku gramatika.

Tuntutan untuk membaca sastra, sayangnya, tidak hanya sebatas mengenali kata-katanya saja. Seperti saat kita belajar sastra sederhana saat SMP, aku juga diharuskan untuk membedah isi sebuah karya sastra tersebut. Unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita. Dan masalahnya adalah, mencari unsur-unsur intrinsik karya-karya ini tak semudah mencari arti kata dalam kamus, hobiku saat itu. Aku sadar aku adalah tipe harfiah. Aku merasa kesusahan menemukan arti-arti kias di balik sebuah baris puisi. Aku dulu tidak pernah paham bagaimana “butir-butir air yang memeluk kaca jendela” adalah “sebuah kaca yang merefleksikan dunia luar, yang kemudian membiaskan kepada penyair yang terisolasi di dalam rumahnya.” Roses are red, violets are blue. That’s just how the nature made it, dude!

Hal itu benar-benar masalah besar di kuliah sastra. Meskipun karya sastra itu bisa ditafsirkan ke berbagai kondisi menurut si penafsir (asalkan masuk akal, kata dosenku Mevrouw Christina), tapi kenyataannya tafsiranku tak pernah sejalan dengan tafsiran dosen sastra (hanya satu dosen sastra itu saja sih, yang lain lumayanlah..) Pernah ketika aku dan kelompok sedang presentasi kajian teks roman di depan kelas, hampir menangis rasanya hayati kena bantai beliau. Tafsiran kami salah sama sekali.  Selama beberapa semester, rasanya berat kaki melangkah tiap kali akan kuliah sastra. Dan selama beberapa semester nilai sastra tidak pernah lebih dari B+. Huff.

Tapi ada salah satu bagian dalam kelas sastra yang menarik buatku. Yaitu ketika kami belajar mengenai teori-teori poskolonialisme. Teori tentang identitas, orientalisme, oksidentalisme, gender, feminisme, dekonstruksi, teori relasi, wacana… begitu menyenangkan untuk dipelajari. Saat kemudian kami diminta untuk menerapkan teori-teori ini kepada teks-teks kolonial, aku merasa bahwa hal ini adalah highlight dari semua kuliah sastra yang telah kujalani. Aku senang saat menemukan hal-hal yang tersembunyi dalam sebuah karya sastra_sesuai dengan teori-teori tersebut_. Tentang keadaan sosial dan budaya yang melatarbelakangi terciptanya sebuah karya sastra. Penafsiran yang berdasarkan pada teori-teori ini sangat menyenangkan untuk dilakukan. I fell in love with literature in this way. Bukan dengan penafsiran bebas sebuah puisi, tapi penafsiran yang memiliki dasar teori. I am not a free style, then..

Lalu aku sedikit demi sedikit menyukai sastra. Aku mulai sedikit demi sedikit membaca karya-karya klasik milik Mark Twain, atau novel-novel lainnya. Lalu aku menyukai diriku yang “sok-sokan” membedah karya sastra lewat pengetahuan yang kudapat dari kuliah-kuliah sastra. Kemarin, ngomong-ngomong, aku baru saja menamatkan buku karya Dominique Lapierre. Judulnya Negeri Bahagia (The City of Joy). Aku berencana akan menulis review tentang buku ini besok. Aku akan membuat sebuah kritik sastra, kalau meminjam istilah sastra 🙂

Jadi begitulah, sekarang aku sedang mencoba lebih membenamkan diriku lagi di dunia sastra. Dan bahasa, masih tetap menjadi cinta pertamaku kok :B

Let’s Get Lost

Let’s get  lost

Let’s get lost in the sea

Let’s feel the sand beneath our feet

Let’s breathe the wind and the breeze

Let’s live wild and free

Let’s see what none hasn’t seen

Let’s go where none knows us

Let’s get lost and see more

Let’s go wandering as a lost child

Let’s let our feet go where they want to go

Whether it be a city or a wild tree

Let’s just get lost

Dialog (2)

“Begitulah aku hidup. Keluargaku bukanlah keluarga yang lazim kubaca di cerita-cerita di buku sekolah. Bukan pula semanis cerita kawan-kawan tentang ayah mereka yang setia mengantar jemput ketika bersekolah. Kadang aku iri, memang. Namun begitulah. Aku merasa aku memang patut untuk membenci ayahku.”

“Aku merasa lelah dengan kehidupanku. Usiaku tak muda lagi, dan aku ingin mencari kedamaian di waktuku menjelang menutup mata. Lalu aku memutuskan hal itu. Aku ingin berpisah dengan ibu anak-anakku.”

“Lalu terjadilah hal itu. Malam itu salah satu malam terdingin di bulan Agustus, empat tahun setelah peristiwa yang kuceritakan tadi. Ayahku memanggilku dan kakakku, yang beberapa malam sebelumnya ditelepon untuk pulang ke rumah. Ayahku mengumpulkan kami. Aku, kakakku, dan ibuku. Hanya kami berempat karena kukira ayahku tidak ingin kedua anak bungsunya mengikuti diskusi ini. Terlalu muda mereka. Ia berdehem sebentar setelah kami semua duduk di kursi  anyam di ruang tamu. Lalu ia mulai berkata.. ia ingin dipisahkan dengan ibuku. Aku terhenyak.

Ia melanjutkan perkataannya. ‘Aku sudah tua, saatnya aku mencari kedamaian di hidupku. Kalian tahu, anak-anakku, ayahmu tidak bahagia hidup di sini. Kalian mengerti, ayahmu tidak bisa hidup di sini bersama dengan ibumu. Aku rasa itu pula yang kalian inginkan, membiarkanku dan ibumu bahagia dengan jalan kami masing-masing. Ayahmu ingin pulang ke nenekmu, biarkan aku hidup sendiri di sana di rumah samping  kuburnya. Biarkan aku pulang, dan kalian di sini menemani ibumu. Tidak ada mantan anak, anak-anakku. Andaikata kalian ada di bumi, dan aku ada di planet tak diketahui, aku tetaplah ayah kalian. Kalian tetap akan kulihat, kujaga, kulindungi. Jika jauh aku akan terbang, jika dekat aku akan melangkahkan kaki.’

Aku tercekat, tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari orang yang kubenci selama dua puluh tahun. Ia melanjutkan, ‘Pernikahan ayah dan ibumu tidak benar, anak-anakku. Begitu banyak perbedaan kami. Aku tidak membenci ibumu, aku memandangnya masih dengan pandangan yang sama ketika aku pertama bertemu dengannya. Tapi ada hal-hal di dunia ini yang seharusnya memang tidak pernah dipaksakan. Aku memaksakan, dan akibatnya aku tidak bahagia.’ Aku tak mengerti maksud ayahku, tapi aku terisak tertahan. Lalu ia berkata, ’Ibumu tidak pernah memandangku.’

Bayangan tentang kebencian yang kurasakan perlahan luluh menjadi perasaan iba dan bersalah begitu aku mendengar suaranya yang bergetar. ‘Ya Allahku, Gusti, salah apa aku sampai aku hidup begini.’ sambungnya. Tangisnya pecah. Ya, ayahku menangis tersedan. Wajah kaku tanpa senyum yang sering kulihat kini berubah menjadi raut muka menyedihkan. Laki-laki tua menyedihkan dengan guratan-guratan garis hidup dan rambut putih yang mendahului usianya yang semestinya. Ia menangis selayaknya anak kecil yang mengadu kepada ibunya setelah seharian tak berjumpa. Menangis, menumpahkan semua lara yang ia pendam. Kami berempat menangis. Ibuku menangis tanpa suara, namun air matanya begitu banyak membanjiri pipi.”

“Telah kuutarakan niatku pada anak-anakku dan ibunya. Mereka tersedu, tanpa memberikan putusan atas apa yang telah kusampaikan. Aku  mencoba semampuku untuk mengatakan kemauanku, dan itu bukanlah hal yang mudah. Bayangan kedua anak bungsuku yang nanti akan hidup jauh dariku sedikit menahanku, namun kesedihan karena hidup bersama ini telah melebihi batasku. Kukatakan pada mereka bahwa aku tidak merasa berharga di rumah. Hanya dengan kekuatan dan bentakan yang akan menunjukkan keberadaanku di rumah. Walau aku tahu itu tidak benar.

Anak keduaku tiba-tiba berdiri sambil tesedu sedan. Suaranya bergetar karena tak bisa menahan isaknya. ‘Ayah,’ katanya. ‘Selama dua puluh tahun aku membenci ayah. Tak pernah sekalipun dari diriku yang pernah mengatakan bahwa aku menyayangimu dan menghormatimu, aku pun yakin ayah tidak pernah membayangkan dan mengharapkannya dariku. Aku telah dengan sebelah mata menghakimimu sebagai ayah yang tak pernah berhati lembut. Maafkan aku.’ Dia terus mengulang kata maaf dan memintaku untuk membiarkannya memulai semuanya dari awal.”

“Malam itu aku naik ke kasurku dengan perasaan campur aduk. Mengetahui fakta bahwa ayahku tak seperti yang kukira selama ini, dan bahwa ada alasan-alasan di balik sikapnya yang kubenci selama ini membuatku tak mampu memejamkan mata. Satu alasan sederhana yang kemudian menjadi besar, seperti sepotong sampah yang mengundang sampah lain menjadi menggunung saat tak segera dibersihkan. Sikap dan sifatnya yang selama ini kukenal adalah akibat dari sampah yang telah terlanjur menggunung itu. Kudapati air mata terus mengalir dari kelopak mataku. Di tengah kegelapan, aku mendengar suara dua orang bercakap di ruang tengah rumahku. Suara ayahku dan kakakku. Ayahku berbicara dengan suara tercekat, sedikit menangis. Ia berkata bahwa betapa ia ingin bisa bercerita keluh kesahnya setiap hari dengan anak-anaknya. Bahwa ia ingin sekedar berbicara, dan ada yang mendengarkannya. Bahwa dia mencintai kami sepenuh hatinya tapi tak tahu harus bagaimana ia berbuat karena dinding pemisah yang terbentuk sudah terlalu tinggi, terakumulasi dari amarah-amarahnya yang tak terbendung. Lalu dia berkata,’Demi Allah, dulu aku bukanlah orang yang bahkan mampu untuk membunuh seekor semut. Mengapa aku begini.’ Dan ia menangis tersedu lagi.

Kuakui saat aku pertama mendengar ayahku menangis malam itu, ada perasaan kecewa kepada ibuku yang membiarkan kami bersekutu dengannya untuk membenci ayahku. Aku dikecewakan dengan ujaran-ujarannya tentang betapa ayahku tidak pernah membantu kehidupan keluarga, betapa ayahku menghamburkan uang demi kesenangan sendiri, betapa ayahku merusak keluarga ini dengan amarahnya, dan betapa-betapa yang lainnya.. aku kecewa aku telah mendengar semua itu dan memupuk rasa benciku pada ayah lebih besar lagi.

Lalu aku menyadari, yang membentuk keadaan ini menjadi seperti ini sebagian adalah diriku. Aku adalah salah satu pembuang sampah di gundukan sampah tadi. Aku menghakiminya dan aku menutup telingaku atas apa yang ingin ia sampaikan, sedang aku hanya menerima cerita-cerita dari satu pihak saja, dari ibuku. Aku telah bersikap tak adil dengan persekutuanku dengan ibu, hanya dengan ibu, dan tak mengacuhkan keberadaan ayahku. Aku kecewa, namun aku tidak menyalahkan ibuku, karena kusadar ia juga sama seperti ayahku yang membutuhkan tempat untuk berbagi keluh kesah. Kesalahan ada pada diriku yang akhirnya membentuk ayahku menjadi seorang pemarah yang pernah hampir membuat anaknya sekarat. Aku tahu itu sebagian kesalahanku.

Dan aku menyadari satu hal lagi, bahwa ayahku sangat mencintai ibuku. Cinta yang begitu dalam sampai cinta itu menyakiti hatinya. Ayahku terlalu mencintainya dengan cara (yang akhirnya) salah. Ia ingin keberadaanya diakui oleh ibuku dengan kekerasan yang ia lakukan. Dengan memukulnya, dengan membentaknya. Ia ingin menunjukkan pada ibuku bahwa ia ‘ada’. Sedang ibuku, yang juga sedikit salah karena tak ‘memandangnya’ dari dulu, semakin tak menganggap ayahku sebagai kepala keluarga, karena kekerasan itu. Aku mendesah, tak tahu dari mana _dan siapa_ aku harus memperbaiki keluarga ini.

Kemudian aku teringat secuil episode masa lalu, ketika tubuhku sedang dengan mudahnya ambruk karena suatu penyakit. Malam itu, aku tengah bercanda di sebuah pesta temanku ketika tiba-tiba aku jatuh tak sadarkan diri. Ketika kubuka mata yang kulihat adalah ibuku, kakak adikku, dan ayahku, di ruang gawat darurat. Kuperhatikan jaket coklat tebal yang ia kenakan ia pakai dengan sisi dalam di luar. Terbalik. Ia hanya mengenakan sesisi sandalnya. Ia diam memandangku dari pojok ruangan itu. Kulihat sorot mata ayahku memancarkan kekhawatiran. Sekali lagi aku tersadar, selama ini aku menutupi episode cinta ayahku itu dengan kebencian yang terlanjur kupupuk. Tengah malam itu, di dalam kamar tak bercahaya, aku menangis.”

Sterrenkind

Sterrenkind

Een sterrennacht op de wereld geworpen,
In sneeuw begraven door de wind,
Houthakkers brachten naar hun verre dorpen
Als een gevonden schat het sterrenkind.
 
Zij dachten hun vrouwen gelukkig te maken
Omdat zijn mantel van zilver was,
Maar zij moesten hem voeden en bij hem waken
Als was hij een kind van hun eigen ras.

De mantel konden zij niet verkopen,
Geen zilversmid geloofde er aan;
De pope wou de vondeling niet dopen,
Dat heidenkind gevallen van de maan.
 
Geen timmerman wilde hem laten werken,
Die tere prins, wat had men er aan?
De kosters joegen hem uit hun kerken,
Het heidenkind dat peinzend stil bleef staan.
 
En op een nacht is hij weer verdwenen;
Het dorp telde vele kindren minder,
Terwijl opeens veel meer sterren schenen.
Het was zeven jaar geleden. En weer winter.

Jan Jacob Slauerhoff

Serenade (1930)

Kijk naar mijn  verfilmde versie van dit gedicht. We maakten deze film voor het gedicht college in 2014. We kregen de tweede plaats voor die film in de gedicht wedstrijd (?) haha