Dialog (1)

“Kukira aku akan mati muda. Maksudku, aku sekarang juga masih terbilang muda, namun kupikir aku akan mati di usiaku yang belum genap 17 tahun. Saat itu aku mendapati diriku limbung dengan darah mengalir dari hidungku. Aku tak lagi bisa melihat sekelilingku dengan jelas, ketika sedikit demi sedikit ruangan terasa berputar. Dalam mata terpejam aku melihat kamar berotasi semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat, dan semuanya tampak membesar. Aku merasa sesak saat atap kamar yang berputar itu semakin mendekat kepadaku seakan akan menghimpitku dengan lantai. Aku merasa mual, ditambah dengan rasa sakit di pangkal hidungku yang terus-terusan mengeluarkan darah. Aku tak lagi mendengar suara-suara di sekitarku. Terasa gelap dan sepi. Yang kuingat sebelum itu semua terjadi aku sedang bertengkar dengan ayahku. Kami berteriak-teriak, dan ibuku tersedu.”

“Aku kehilangan kesabaranku, dan kesadaranku. Darahku terasa mendidih dan tanganku bergerak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Saat itu otakku tak bekerja untuk mengendalikannya. Teriakanteriakannya menyumbat telingaku dan menyumbat hatiku. Aku menghajarnya. Aku tak ingat berapa kali aku menjatuhkan kepalan tanganku yang, aku juga tak tahu mengapa, begitu keras mengeras seperti batu ke atas kepalanya. Pukulanku semakin menjadi kala kudengar ia berseru bahwa ia tak takut dengan tinjuku, bahwa ia lebih baik menerima itu semua dari pada ibunya yang mendapatkannya. Kurasakan tangan ibunya berusaha untuk menghentikanku sambil berteriak. Namun aku tak mau tahu. Yang kutahu kala itu adalah anak di depanku telah membuatku sangat gusar. Lalu darah keluar dari hidungnya. Aku melihatnya, namun aku tak bisa menghentikan amarah yang ada dalam kepalan tanganku. Aku tahu dia kesakitan, namun aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tidak, ketika kudapati badannya ambruk. Dan darahnya tercecer.”

“Saat aku terbangun aku berada di atas tempat tidurku. Darah telah berhenti mengalir dari hidungku, tapi kepalaku masih terasa berputar-putar. Lalu kulihat kedua adikku duduk di sampingku. Air mata mengalir di pipi mereka. Adik-adikku masih terlalu kecil untuk melihat itu semua, munurutku. Saat itu mereka hanya anak kecil berumur 10 dan 8 tahun. Lalu aku ingat mereka berteriak histeris menyebut-nyebut kata ‘ayah’, saat ayahku menghajarku. Berusaha menghentikan ayahku dengan seruan mereka. Aku berusaha mencari keberadaan ibuku. Tak kudapati ia di rumah. Belakangan kutahu ia pergi ke rumah atasan ayahku. Ayahku bekerja di kantor pos. Pekerjaan yang bagus pada jaman dahulu, sebelum virus surat elektronik menjangkiti semua orang tentunya. Menurut ibu, atasan ayahku adalah seseorang yang mampu menolong masalahnya, bahwa suaminya adalah seorang pelaku kekerasan rumah tangga.

Aku juga selalu membenci ayahku. Setidaknya selama dua puluh tahun lebih hidupku aku selalu menganggap ayahku adalah sumber masalah untuk ibuku. Aku tahu dari ibuku bahwa uang yang kupakai untuk sekolah, uang yang dikirimkan kepada kakakku yang sedang belajar di luar kota, uang untuk membeli susu dan buku adik-adikku adalah uang ibu. Ibuku memang pekerja keras, ia bekerja sebagai carik di desaku, dan masih sering melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa ia lakukan ketika jamnya mengabdi di kantor lurah sudah usai. Ibuku begitu pekerja keras, hingga kadang beliau pulang ke rumah saat kami semua sudah terlelap. Dan ayahku sering meledak amarahnya karena hal itu. Ketika hal itu terjadi, aku selalu kembali memasang posisi membela ibu. Bahwa nasi yang kumakan adalah nasi ibuku, hingga ia bekerja sampai larut, maka dari itu aku berteriak bahwa ia tak patut untuk menumpahkan amarahnya kepada ibuku. Kadang aku berusaha menyerangnya kembali, bahwa aku tak pernah mendapatkan uang darinya, bahwa apa yang ia lakukan hanya bermain kartu di sarang-sarang penjudi dengan uang taruhan yang seharusnya bisa kugunakan untuk membeli buku baru. Segera setelah aku berkata begitu, pasti ayahku akan menamparku dan aku sebisa mungkin menahan air mataku. Aku selalu tak ingin menangis saat aku bertengkar dengan ayahku. Aku tak mau terlihat ringkih di depannya.”

“Aku tahu ia membenciku. Dari sorotan matanya aku bisa menyimpulkan seperti itu. Aku tak pernah mendengarnya bercerita padaku tentang hariharinya di sekolah, atau tentang anak laki-laki yang katanya mulai menyukainya. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami bersendagurau. Aku ingat kala ia kelas dua sekolah menengah atas, kala ia dan kawan-kawannya akan mengadakan darma wisata. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk membayarnya tak dimiliki oleh ibunya. Kemudian mau tak mau ia dihadapkan pada pilihan untuk tak ikut bersenang-senang, atau meminta padaku. Aku tahu dia tak akan mau meminta padaku. Lalu selama seminggu dia hanya mengurung diri di kamarnya, merasa sedih tak bisa ikut bersukaria bersama kawannya. Aku bukannya tak ingin memberinya uang itu, namun aku juga tak bisa begitu saja berbicara dengannya. Aku ingin memberinya. Dan dengan memberinya uang sebenarnya aku kemudian bisa menunjukkan kepada ibunya bahwa aku pun memberi kepada anakku. Aku betul-betul lelah mendengar mulut besarnya yang mengatakan bahwa semua kebutuhan hidup dia yang mencukupi. Aku laki-laki, dan jika kau tahu, laki-laki tak menyukai perasaan dianggap tak berguna.

Rumahku tidak menjadi rumah untukku. Aku memang selalu pulang untuk melihat anak-anakku. Sekedar memastikan kedua anak terakhirku sudah ada di rumah setelah mereka bersekolah, dan, kadang-kadang, ingin mencoba menyapa anak keduaku itu. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di luar rumah. Tak tahan rasanya aku menjadi orang asing tak teracuhkan di rumahku sendiri. Sore hari, ketika pekerjaanku menyortir surat dan paket pos telah selesai, aku selalu menghabiskan waktuku untuk bercengkerama dengan orang-orang di pos ojek di gapura masuk desaku. Aku selalu betah berada di sana yang lebih memberikan keramaian dibandingkan rumahku sendiri. Aku tahu anak-anakku tak menyukai ayahnya berkeliaran di sana bersama dengan tukang ojek dan, kadang-kadang, preman-preman kampung. Tapi di sanalah kadang aku menemukan kesenanganku dan pelarianku.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s