Dialog (2)

“Begitulah aku hidup. Keluargaku bukanlah keluarga yang lazim kubaca di cerita-cerita di buku sekolah. Bukan pula semanis cerita kawan-kawan tentang ayah mereka yang setia mengantar jemput ketika bersekolah. Kadang aku iri, memang. Namun begitulah. Aku merasa aku memang patut untuk membenci ayahku.”

“Aku merasa lelah dengan kehidupanku. Usiaku tak muda lagi, dan aku ingin mencari kedamaian di waktuku menjelang menutup mata. Lalu aku memutuskan hal itu. Aku ingin berpisah dengan ibu anak-anakku.”

“Lalu terjadilah hal itu. Malam itu salah satu malam terdingin di bulan Agustus, empat tahun setelah peristiwa yang kuceritakan tadi. Ayahku memanggilku dan kakakku, yang beberapa malam sebelumnya ditelepon untuk pulang ke rumah. Ayahku mengumpulkan kami. Aku, kakakku, dan ibuku. Hanya kami berempat karena kukira ayahku tidak ingin kedua anak bungsunya mengikuti diskusi ini. Terlalu muda mereka. Ia berdehem sebentar setelah kami semua duduk di kursi  anyam di ruang tamu. Lalu ia mulai berkata.. ia ingin dipisahkan dengan ibuku. Aku terhenyak.

Ia melanjutkan perkataannya. ‘Aku sudah tua, saatnya aku mencari kedamaian di hidupku. Kalian tahu, anak-anakku, ayahmu tidak bahagia hidup di sini. Kalian mengerti, ayahmu tidak bisa hidup di sini bersama dengan ibumu. Aku rasa itu pula yang kalian inginkan, membiarkanku dan ibumu bahagia dengan jalan kami masing-masing. Ayahmu ingin pulang ke nenekmu, biarkan aku hidup sendiri di sana di rumah samping  kuburnya. Biarkan aku pulang, dan kalian di sini menemani ibumu. Tidak ada mantan anak, anak-anakku. Andaikata kalian ada di bumi, dan aku ada di planet tak diketahui, aku tetaplah ayah kalian. Kalian tetap akan kulihat, kujaga, kulindungi. Jika jauh aku akan terbang, jika dekat aku akan melangkahkan kaki.’

Aku tercekat, tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari orang yang kubenci selama dua puluh tahun. Ia melanjutkan, ‘Pernikahan ayah dan ibumu tidak benar, anak-anakku. Begitu banyak perbedaan kami. Aku tidak membenci ibumu, aku memandangnya masih dengan pandangan yang sama ketika aku pertama bertemu dengannya. Tapi ada hal-hal di dunia ini yang seharusnya memang tidak pernah dipaksakan. Aku memaksakan, dan akibatnya aku tidak bahagia.’ Aku tak mengerti maksud ayahku, tapi aku terisak tertahan. Lalu ia berkata, ’Ibumu tidak pernah memandangku.’

Bayangan tentang kebencian yang kurasakan perlahan luluh menjadi perasaan iba dan bersalah begitu aku mendengar suaranya yang bergetar. ‘Ya Allahku, Gusti, salah apa aku sampai aku hidup begini.’ sambungnya. Tangisnya pecah. Ya, ayahku menangis tersedan. Wajah kaku tanpa senyum yang sering kulihat kini berubah menjadi raut muka menyedihkan. Laki-laki tua menyedihkan dengan guratan-guratan garis hidup dan rambut putih yang mendahului usianya yang semestinya. Ia menangis selayaknya anak kecil yang mengadu kepada ibunya setelah seharian tak berjumpa. Menangis, menumpahkan semua lara yang ia pendam. Kami berempat menangis. Ibuku menangis tanpa suara, namun air matanya begitu banyak membanjiri pipi.”

“Telah kuutarakan niatku pada anak-anakku dan ibunya. Mereka tersedu, tanpa memberikan putusan atas apa yang telah kusampaikan. Aku  mencoba semampuku untuk mengatakan kemauanku, dan itu bukanlah hal yang mudah. Bayangan kedua anak bungsuku yang nanti akan hidup jauh dariku sedikit menahanku, namun kesedihan karena hidup bersama ini telah melebihi batasku. Kukatakan pada mereka bahwa aku tidak merasa berharga di rumah. Hanya dengan kekuatan dan bentakan yang akan menunjukkan keberadaanku di rumah. Walau aku tahu itu tidak benar.

Anak keduaku tiba-tiba berdiri sambil tesedu sedan. Suaranya bergetar karena tak bisa menahan isaknya. ‘Ayah,’ katanya. ‘Selama dua puluh tahun aku membenci ayah. Tak pernah sekalipun dari diriku yang pernah mengatakan bahwa aku menyayangimu dan menghormatimu, aku pun yakin ayah tidak pernah membayangkan dan mengharapkannya dariku. Aku telah dengan sebelah mata menghakimimu sebagai ayah yang tak pernah berhati lembut. Maafkan aku.’ Dia terus mengulang kata maaf dan memintaku untuk membiarkannya memulai semuanya dari awal.”

“Malam itu aku naik ke kasurku dengan perasaan campur aduk. Mengetahui fakta bahwa ayahku tak seperti yang kukira selama ini, dan bahwa ada alasan-alasan di balik sikapnya yang kubenci selama ini membuatku tak mampu memejamkan mata. Satu alasan sederhana yang kemudian menjadi besar, seperti sepotong sampah yang mengundang sampah lain menjadi menggunung saat tak segera dibersihkan. Sikap dan sifatnya yang selama ini kukenal adalah akibat dari sampah yang telah terlanjur menggunung itu. Kudapati air mata terus mengalir dari kelopak mataku. Di tengah kegelapan, aku mendengar suara dua orang bercakap di ruang tengah rumahku. Suara ayahku dan kakakku. Ayahku berbicara dengan suara tercekat, sedikit menangis. Ia berkata bahwa betapa ia ingin bisa bercerita keluh kesahnya setiap hari dengan anak-anaknya. Bahwa ia ingin sekedar berbicara, dan ada yang mendengarkannya. Bahwa dia mencintai kami sepenuh hatinya tapi tak tahu harus bagaimana ia berbuat karena dinding pemisah yang terbentuk sudah terlalu tinggi, terakumulasi dari amarah-amarahnya yang tak terbendung. Lalu dia berkata,’Demi Allah, dulu aku bukanlah orang yang bahkan mampu untuk membunuh seekor semut. Mengapa aku begini.’ Dan ia menangis tersedu lagi.

Kuakui saat aku pertama mendengar ayahku menangis malam itu, ada perasaan kecewa kepada ibuku yang membiarkan kami bersekutu dengannya untuk membenci ayahku. Aku dikecewakan dengan ujaran-ujarannya tentang betapa ayahku tidak pernah membantu kehidupan keluarga, betapa ayahku menghamburkan uang demi kesenangan sendiri, betapa ayahku merusak keluarga ini dengan amarahnya, dan betapa-betapa yang lainnya.. aku kecewa aku telah mendengar semua itu dan memupuk rasa benciku pada ayah lebih besar lagi.

Lalu aku menyadari, yang membentuk keadaan ini menjadi seperti ini sebagian adalah diriku. Aku adalah salah satu pembuang sampah di gundukan sampah tadi. Aku menghakiminya dan aku menutup telingaku atas apa yang ingin ia sampaikan, sedang aku hanya menerima cerita-cerita dari satu pihak saja, dari ibuku. Aku telah bersikap tak adil dengan persekutuanku dengan ibu, hanya dengan ibu, dan tak mengacuhkan keberadaan ayahku. Aku kecewa, namun aku tidak menyalahkan ibuku, karena kusadar ia juga sama seperti ayahku yang membutuhkan tempat untuk berbagi keluh kesah. Kesalahan ada pada diriku yang akhirnya membentuk ayahku menjadi seorang pemarah yang pernah hampir membuat anaknya sekarat. Aku tahu itu sebagian kesalahanku.

Dan aku menyadari satu hal lagi, bahwa ayahku sangat mencintai ibuku. Cinta yang begitu dalam sampai cinta itu menyakiti hatinya. Ayahku terlalu mencintainya dengan cara (yang akhirnya) salah. Ia ingin keberadaanya diakui oleh ibuku dengan kekerasan yang ia lakukan. Dengan memukulnya, dengan membentaknya. Ia ingin menunjukkan pada ibuku bahwa ia ‘ada’. Sedang ibuku, yang juga sedikit salah karena tak ‘memandangnya’ dari dulu, semakin tak menganggap ayahku sebagai kepala keluarga, karena kekerasan itu. Aku mendesah, tak tahu dari mana _dan siapa_ aku harus memperbaiki keluarga ini.

Kemudian aku teringat secuil episode masa lalu, ketika tubuhku sedang dengan mudahnya ambruk karena suatu penyakit. Malam itu, aku tengah bercanda di sebuah pesta temanku ketika tiba-tiba aku jatuh tak sadarkan diri. Ketika kubuka mata yang kulihat adalah ibuku, kakak adikku, dan ayahku, di ruang gawat darurat. Kuperhatikan jaket coklat tebal yang ia kenakan ia pakai dengan sisi dalam di luar. Terbalik. Ia hanya mengenakan sesisi sandalnya. Ia diam memandangku dari pojok ruangan itu. Kulihat sorot mata ayahku memancarkan kekhawatiran. Sekali lagi aku tersadar, selama ini aku menutupi episode cinta ayahku itu dengan kebencian yang terlanjur kupupuk. Tengah malam itu, di dalam kamar tak bercahaya, aku menangis.”

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s