Sastra untukku..

Sejak menjadi freshman di dunia perkuliahan, aku lebih suka menyebut diriku sebagai mahasiswa bahasa dan bukan mahasiswa sastra, terlepas dari nama jurusanku yaitu Sastra Belanda. Tentu aku tak menyangkal jika aku juga menikmati waktu-waktuku dulu berkutat dengan teks-teks sastra seperti roman jaman kolonial, puisi dari abad keenambelas , atau bahkan teks-teks sastra modern abad keduapuluhsatu. Tapi semuanya kunikmati sebatas sebagai mediaku menemukan kata-kata baru, menemukan frasa baru, atau bahkan untuk mengulik tata bahasa yang kadang tak kumengerti di buku gramatika.

Tuntutan untuk membaca sastra, sayangnya, tidak hanya sebatas mengenali kata-katanya saja. Seperti saat kita belajar sastra sederhana saat SMP, aku juga diharuskan untuk membedah isi sebuah karya sastra tersebut. Unsur intrinsik dan ekstrinsik cerita. Dan masalahnya adalah, mencari unsur-unsur intrinsik karya-karya ini tak semudah mencari arti kata dalam kamus, hobiku saat itu. Aku sadar aku adalah tipe harfiah. Aku merasa kesusahan menemukan arti-arti kias di balik sebuah baris puisi. Aku dulu tidak pernah paham bagaimana “butir-butir air yang memeluk kaca jendela” adalah “sebuah kaca yang merefleksikan dunia luar, yang kemudian membiaskan kepada penyair yang terisolasi di dalam rumahnya.” Roses are red, violets are blue. That’s just how the nature made it, dude!

Hal itu benar-benar masalah besar di kuliah sastra. Meskipun karya sastra itu bisa ditafsirkan ke berbagai kondisi menurut si penafsir (asalkan masuk akal, kata dosenku Mevrouw Christina), tapi kenyataannya tafsiranku tak pernah sejalan dengan tafsiran dosen sastra (hanya satu dosen sastra itu saja sih, yang lain lumayanlah..) Pernah ketika aku dan kelompok sedang presentasi kajian teks roman di depan kelas, hampir menangis rasanya hayati kena bantai beliau. Tafsiran kami salah sama sekali.  Selama beberapa semester, rasanya berat kaki melangkah tiap kali akan kuliah sastra. Dan selama beberapa semester nilai sastra tidak pernah lebih dari B+. Huff.

Tapi ada salah satu bagian dalam kelas sastra yang menarik buatku. Yaitu ketika kami belajar mengenai teori-teori poskolonialisme. Teori tentang identitas, orientalisme, oksidentalisme, gender, feminisme, dekonstruksi, teori relasi, wacana… begitu menyenangkan untuk dipelajari. Saat kemudian kami diminta untuk menerapkan teori-teori ini kepada teks-teks kolonial, aku merasa bahwa hal ini adalah highlight dari semua kuliah sastra yang telah kujalani. Aku senang saat menemukan hal-hal yang tersembunyi dalam sebuah karya sastra_sesuai dengan teori-teori tersebut_. Tentang keadaan sosial dan budaya yang melatarbelakangi terciptanya sebuah karya sastra. Penafsiran yang berdasarkan pada teori-teori ini sangat menyenangkan untuk dilakukan. I fell in love with literature in this way. Bukan dengan penafsiran bebas sebuah puisi, tapi penafsiran yang memiliki dasar teori. I am not a free style, then..

Lalu aku sedikit demi sedikit menyukai sastra. Aku mulai sedikit demi sedikit membaca karya-karya klasik milik Mark Twain, atau novel-novel lainnya. Lalu aku menyukai diriku yang “sok-sokan” membedah karya sastra lewat pengetahuan yang kudapat dari kuliah-kuliah sastra. Kemarin, ngomong-ngomong, aku baru saja menamatkan buku karya Dominique Lapierre. Judulnya Negeri Bahagia (The City of Joy). Aku berencana akan menulis review tentang buku ini besok. Aku akan membuat sebuah kritik sastra, kalau meminjam istilah sastra 🙂

Jadi begitulah, sekarang aku sedang mencoba lebih membenamkan diriku lagi di dunia sastra. Dan bahasa, masih tetap menjadi cinta pertamaku kok :B

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s