Wonosobo kabupaten termiskin?

Saya kira kesenjangan ekonomi yang begitu terlihat mencolok hanya ada di kota-kota besar. Di Jakarta, tempat ter-mainstream untuk merantau, anak kecil berlalu-lalang menadahkan tangan sambil mengiba memelas begitu mudah ditemui. Suatu kelaziman. Namun, siang ini, saya sedikit dibuat kaget dengan kejadian yang saya alami di kota kecil kelahiran saya, Wonosobo. Pasalnya, ketika saya dan ibu saya tengah asyik berjalan di trotoar kaki lima sedang ibunda juga sibuk tawar menawar dengan pedagang mangga, seorang anak lelaki usia sekitar 7 atau 8 tahun menghampiri dan menggamit tangan saya. Kaget, dia langsung berkata “Mbak, nyuwun artane.. ngge tumbas maem” (Mbak, minta uangnya..  untuk beli makan). Tangannya menadah dan wajahnya sedikit mengiba. Sempat tak berkata karena otak saya lama mencerna kejadian yang sedang terjadi, saya pun cuma menyikut lengan ibu saya, meminta beliau  yang kemudian menuruti permintaan si adik itu dengan menjulurkan selembar pecahan limaribuan. Si bocah lelaki itu langsung bilang maturnuwun dan berlalu meninggalkan kami.

Masih agak bingung menyusun reasoning puzzle yang tepat atas kejadian barusan, saya pun bertanya kepada ibu, “Buk, di sini sudah banyak ya kejadian begitu?” Kata ibu saya, beliau juga baru menemukan kejadian ini sekali ini. Saya manggut-manggut. Tapi perasaan masih sedikit aneh. Dalam pikiran saya, dalam bayangan saya, di kota sekecil Wonosobo, hal seperti itu adalah hal yang sedikit tak mungkin. Kenapa? Hm.. banyak alasan. Pertama, saya kira mayoritas orang di Wonosobo sejahtera. Paling tidak di beberapa lingkungan yang akrab dengan saya. Lingkungan rumah, lingkungan sekolah, atau lingkungan-lingkungan yang mainstream saya kunjungi ketika pulang kampung ke sini, alun-alun atau RITA, misalnya. Saya kira orang-orang di Wonosobo mampu, ketika saya harus mengantre berjam-jam (oke, ini hiperbola) ketika mau membayar di kasir swalayan dan ternyata mereka memang mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja. Kedua, saya ingat Pak Bupati kami adalah salah satu bupati yang dianggap berhasil membangun kota hingga beliau kerap diundang memberi kuliah di mana-mana. Lihat saja infrastruktur-infrastruktur yang disulapnya menjadi enak dan nyaman. Taman kota, alun-alun… pusat kota yang bagus dan elok. Saya kira hal itu terjadi di seluruh daerah di Wonosobo. Dan ketiga, menurut saya orang Wonosobo itu tipe orang Jawa sejati. Pemalu dan rikuh-pakewuhan. Dan sedikit gengsi. (Oke, sekali lagi ini menurut saya). Saya ingat sewaktu saya masih menjadi bocah SD, saya lupa meminta uang saku kepada ibu. Bekalpun lupa terbawa, padahal hari itu ada kelas tambahan sampai sore. Selama satu hari itu saya bertahan untuk tidak jajan. Teman-teman saya banyak yang sadar bahwa saya dari istirahat jam pertama tidak makan, lalu mereka menawari saya untuk meminjam uang. Saya malu. Dan gengsi. Saya menolak dan berbohong saya sedang puasa. Saya malu jika dikira saya tak punya uang dan butuh dibelaskasihi. Gengsi tingkat anak SD yang ketinggian. Jadi, saya kira anak kecil tadi paling tidak memiliki emosi dan mental yang sama dengan saya saat SD. Anak Jawa asli.

Kembali ke cerita adik kecil tadi. “Kayaknya kalau dilihat dari baju dan wajahnya, dia masih tidur di rumah, ya Bu?” tanya saya retoris. “Iya lah, di Wonosobo nggak mungkin ada yang mau tidur di luar” Ibu menjawab dengan sedikit guyon. Sayapun mesem saja. Berarti kalau saya boleh menarik kesimpulan asal-asalan, si adik itu bukanlah gelandangan yang tidur di emperan atau kolong jembatan seperti kebanyakan yang terlihat di Jakarta. Lalu dengan penalaran-penalaran yang saya sebut di paragraf atas yang ternyata tidak sesuai dengan realita yang baru saya alami, saya kemudian teringat tentang (judul) artikel koran (yang dikirim kawan lewat WhatsApp) yang memberitakan bahwa Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Saya tidak tahu isinya tepatnya seperti apa, walaupun saya akhirnya membaca summary artikel itu saya masih tidak paham dengan istilah ekonomi dan angka-angkanya. Yang jelas yang saya tahu Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah.

Si adik yang dalam pandangan saya bukanlah seorang gelandangan dan pengemis ‘asli’ seperti yang saya lihat kebanyakan di ibukota mungkin adalah salah satu anak yang karena terhimpit oleh keadaan memberanikan diri untuk meminta-minta di jalan yang tak begitu ramai di pusat kota Wonosobo. Keterhimpitan itu pula yang akhirnya menyingkirkan rasa rikuh-pakewuh, malu, dan gengsi a la orang Jawa (stereotipe sih ) untuk meminta belas kasih demi sebungkus nasi, menurut saya. Saya sebenarnya tidak tahu secara pasti seberapa miskin kemiskinan itu di Wonosobo, sehingga kebupaten tercinta ini mendapatkan predikat itu. Namun dengan sekelebat kejadian siang ini sedikit membuka mata saya tentang semiskin itu kemiskinan di kota kecil ini. Sampel yang riil dan sederhana untuk saya, dan bukan angka-angka yang tak saya pahami di artikel koran itu.

Dan, saya kira kebingungan sesaat yang saya alami atas kejadian siang ini semata karena kekolotan saya dan kekuperan saya untuk mengenal daerah ini dengan baik. Saya sempat tercenung, memikirkan betapa saya tidak tahu tentang daerah yang dalam beberapa bulan terakhir ini dengan getol saya (usahakan) bangun dengan organisasi saya, Wonosobo Muda. Hmm.

Siang tadi sebenarnya saya ingin bertanya kepada adik itu tentang dirinya, ah namun sayang ia keburu masuk ke keramaian lorong pasar..

29 September 2015

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s