Sang Penulis (1)

Penulis itu terbangun setelah sebuah malam yang menggelisahkan.

Akhir-akhir ini ia terganggu oleh mimpi-mimpi yang menyebalkan _namun kadang juga melenakan_ yang kadang berakhir dengan mimpi buruk yang berusaha ia lepaskan dengan susah payah, meskipun ia sadar bahwa ia sedang bermimpi.

Namun kali ini berbeda.

Semalam, ada suatu hal aneh yang tak dapat ia temukan satu pun penjelasan tentangnya. Biasanya ia berhasil untuk melacak sebagian besar mimpi-mimpinya, walaupun kadang tak bisa ia tuliskan semua. Sangat jarang, seperti sekarang, tidak bisa ia menemukan tali untuk menarik kembali mimpinya itu.

Ia tahu bahwa semalam ia bermimpi, bahwa ia semalam ia berbicara dengan seseorang. Tetapi, tentang apa yang dibicarakan tidak bisa ia mengingatnya. Juga dengan siapa ia bicara. Ada sebuah perasaan sesak tersisa di dadanya, dan ia berusaha meraba dan mencari hal yang menyesakkannya itu. Namun tetap ia tidak bisa menemukan sepotong gambar pun yang semalam muncul di mimpinya itu.

Hampir selalu ia langsung menuliskan mimpi-mimpinya sekejap ia membuka mata di pagi hari. Untuk hal itu selalu terbaring sebatang pensil dan buku catatan kotor di samping tempat tidurnya. Sekarang pun ia memutuskan untuk menuliskan sesuatu di bukunya, walau ia tahu ia tak memiliki gambar apa pun tentang mimpinya. Tapi, setidaknya ia masih bisa menuliskan perasaan-perasaan luar biasa dan aneh yang masih bisa ia rasakan. Perasaan tentang malam tadi. Perasaan terantai, tertindas, gelisah, namun juga rasa penasaran.

Ia meraih pensilnya, yang terasa aneh berada di genggamannya. Seolah jari-jarinya memegang sesuatu benda asing. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Buku catatan kecil nan kotor  itu pun terasa dingin dan kosong. Ia lalu mencari halaman kosong di dalamnya.

Ada beberapa coretan-coretan terhambur di dalam buku itu. Kadang ada pula kalimat-kalimat tertulis vertikal, sejajar dengan garis samping kertas, bahkan ada pula kata-kata yang tertulis terbalik.

Pertama-tama, menurutnya, ia harus menuliskan satu kata kunci tentang mimpinya semalam. Karena dengan itu ia merasa ia tidak akan pernah lupa tentang apa yang akan ditulisnya esok. ‘Penindasan’ adalah kata yang bagus. Namun, pensil itu tidak terasa nyaman berada di genggaman jarinya.

Ia selalu menulis dengan pensil dijepit di antara ibu jari, telunjuk dan jari tengah, tapi sekarang gaya seperti itu terasa tak pernah dikenalnya. Dia mencoba menjepit pensilnya dengan cara lain, tapi hal itu tidak berhasil.

Akhirnya ia memaksakan gaya normal yang biasa ia lakukan, dan menjepit pensilnya keras-keras, berusaha agar benda itu tidak akan tergelincir dari tangannya. Ia berusaha untuk membuat satu titik di atas kertas, namun tak sampai pensilnya menitikkan itu di sana. Ada sesuatu yang menahan tangannya. Rasanya kertas dan pensil itu bertolak belakang, seperti dua kutub yang saling menolak. Seberapapun besar tenaga yang ia keluarkan, titik itu tidak bisa terbubuh di atas kertas.

Ia menatap tangannya dan melihat bahwa tangannya mengerut, dan menggguratkan cakarnya di batang pensil. Ia tidak mengenali tangannya.

Tiba-tiba ada rasa panik yang menjalar tubuhnya dan dengan sekejap mata ia refleks melemparkan buku dan pensilnya di pojok kamar tidurnya. Bingung, ia menatap tangannya, pergelangan tangan, telapak tangan, dan kemudian jari-jarinya. Ia bisa merentangkan jari-jarinya dengan lentur dan kemudian mengepalkannya lagi, dan tidak ada hal aneh yang terlihat. Setiap gerakan tangan yang ingin ia buat, bisa ia lakukan. Apakah ia benar-benar telah terjaga dari tidurnya ataukah ia masih ada dalam mimpinya yang belum usai?

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memungut pensil dan bukunya dari lantai. Sekali lagi pensil itu terasa kosong saat tangannya menyentuhnya. Seakan-akan ia menulis dengan ular-ularan karet yang lembek meliuk-liuk.  Lalu ia meremas keras pensil itu karena ia merasa pensil itu seakan hendak jatuh dari genggaman jemarinya.

Kemudian, tiba-tiba, ada perasaan aneh yang berubah dan menjalar tangannya. Ia mengutuk, panik, karena perasaan itu seakan menusuknya, menjalar sampai ke otak seakan bisa membuatnya limbung karena stroke. Ia tidak pernah sewaspada dan setakut ini selama hidup, namun bukankah kelumpuhan di kedua tangan tidak pernah dating dengan tiba-tiba?

Ia meraih celana dan sweater-nya yang terasa normal seperti biasanya, begitu juga kaus kaki dan sepatunya. Semuanya normal. Jenggot dan kumisnya juga tak terasa aneh, tak ada yang mengkhawatirkan.

Ia berjalan ke ruang kerjanya dan dinginnya lantai yang telanjang merembes ke atas ke kedua kakinya.

Di atas meja kerjanya terletak pena kesukaannya, sebuah pena tinta yang indah. Ia meraihnya dan tiba-tiba ia merasa seakan tersambar petir. Lagi-lagi pena ini juga terasa asing di tangannya dan ketika ia ingin menggoreskan kata dengan pena ini, ia tak juga menemukan sepatah pun kata di atas kertas.

Lututnya terasa lemas dan perasaan mual menghinggapi perutnya. Ia bersandar pada sisi meja kerjanya lalu menjatuhkan diri di kursi di sampingnya. Dengan matanya yang jernih ia menatap lurus ke depan dengan penuh keputusasaan.

Apa yang terjadi? Apa arti semua ini? Ia perlahan mulai menyadari bahwa ada hal yang aneh yang sedang dia alami, namun tidak tentang apa yang sebenar-benarnya tengah terjadi.

Rasa takut luar biasa kemudian menguasainya, dan ia dengan susah payah berusaha untuk menahan diri agar tak berteriak. Ia lalu menemukan di pinggir meja kerjanya ada sebuah tanda dan simbol aneh yang ditempel dengan selotip.

Tanda aneh? Tadinya, di sana, ia menuliskan kata-kata mutiara yang ia tempel dengan merekatkannya dengan berlapis-lapis selotip. Namun, sekarang di sana hanya ada tanda dan simbol yang tak terbaca. Siapa yang mengubahnya?

‘Inspirasi tidak bisa kau paksakan.’ Kalimat itu tadinya ada di sana. Namun, yang tertera sekarang bukanlah huruf-huruf. Ada garis-garis pendek, kotak, lingkaran, dan kadang dengan tanda bintang dan persegi panjang. Ia yakin bahwa susunan tanda-tanda tadi ada tepat di atas tempat kata mutiaranya tadinya tertulis.

Pertama sembilan tanda, lalu lima, lalu empat, dan seterusnya. Apakah huruf-huruf tadi memang benar-benar berubah menjadi tanda dan simbol, ataukah hal itu hanya terjadi di dalam kepalanya?

Rasa panik mulai datang menggantikan keputusasaan yang tadinya merangkak di dalam tubuhnya. Rasa itu ada di dalam kepalanya, Pasti. Hal itu pastilah stroke, pendarahan di otaknya, atau semacamnya. Aku seharusnya lumpuh sekarang, tapi tidak, semua organku masih ada dan bekerja sebagaimana biasanya.

Hanya menulis _pekerjaannya yang tolol itu_ yang tidak berhasil. Dan sekarang bahkan membaca juga tak bisa ia lakukan. Aku telah terdampar di sebuah pulau film horor, pikirnya. Sebuah mimpi horor, yang belum selesai, walaupun aku sadar aku telah terjaga

Sebuah gambar dari masa kecilnya tiba-tiba melintas melewatinya. Ia melihat dirinya sebagai seorang anak kecil tengah berbaring di tempat tidur dan merasa ia ingin kencing. Ia bermimpi ia berdiri dan berjalan ke arah kamar kecil, membuka celananya dengan rapi, dan mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan itu. Ia lalu ingat, malam itu terasa hangat terasa di sekitar pahanya, dan ketika ia bangun ia mendapati dirinya terkencing di atas kasur.

Ini adalah suatu hal yang sering kau alami. Kau bermimpi bahwa kau telah terjaga, sedang kenyataannya kau masih ada di alam mimpi.

Ia juga pernah mendengar sesuatu. Tentang seseorang yang tidak bisa melepaskan diri dari mimpi yang ia alami. Terjebak dalam ilusi sendiri, di dunia mimpi, atau di mimpi buruk yang tengah ia alami, atau mungkin juga seperti dunia yang sedang dialami oleh pasien-pasien yang koma atau pasien Alzheimer.

Seakan sebuah kebohongan besar sedang dalam jalannya untuk mencarimu. Apakah ini adalahsebuah kebohongan besar? Apakah hidup ini bukanlah benar-benar kehidupan, dan dunia adalah dunia imaji? Dan cahaya bersinar terbalik, jadi dirimu selalu terlihat bersinar benderang.

……………………………………..