Selama setahun ke depan..

Malam ini semangatku kembali menggebu. Sudah beberapa jam semenjak aku menutup novel ‘Negeri Bahagia’ku, mengambil segelas air putih, dan mematikan lampu. Mataku tak ingin segera terpejam. Gejolak mimpi yang semakin malam semakin mendidih, semakin membuatku merasa senang dan berdebar.

Aku terserap pada gambar-gambar buatanku sendiri tentang apa yang akan kulakukan esok hari. Aku akan berada di sebuah ruangan penuh buku, perpustakaan kampus. Aku akan membuka halaman demi halaman buku-buku itu, aku akan mencari kata-kata bagus yang bisa kukutip dan kumasukkan ke dalam tulisanku. Selama satu minggu aku akan mendapati diriku di situ dan melakukan itu.

Lalu pada hari ketujuh atau kedelapan, aku akan mengirim pesan pendek kepada dosenku, dan dengan berbangga hati aku akan menunjukkan hasil kerjaku itu. Aku harap dia akan menyukainya dan akan memasukkannya ke dalam ‘Jurnal Sosiolinguistik’. Dan akan ada namaku di situ.

Lalu aku akan mengajak dosen tersayangku, Bu Ari untuk minum kopi bersama. Kali ini aku yang akan membayar minuman kami. Minggu lalu kami juga bertemu di cafe kecil di dalam kampus dan kami berbicara banyak hal. Ah tidak, beliau yang berkisah banyak, dan aku mendengar dan menimpali. Kisah-kisah beliau selalu menyenangkan untuk didengar. Tapi minggu depan aku yang akan bercerita. Aku akan bercerita tentang cita-citaku yang lain. Beliau telah tahu banyak apa yang ingin kulakukan dan kumiliki di dunia, dan mendukungnya. Kuingat pertama kali yang  beliau tanyakan padaku saat kuliah dulu: Nak, apa cita-citamu? Lalu aku berkata: Saya ingin keliling dunia. Lalu ia menjawab: Mimpimu terlalu kecil, Nak. Itu terlalu mudah dilakukan. Bercitalah sebuah cita yang terasa sulit dilakukan, itu namanya cita-cita. Kalau itu mudah, bukan cita-cita namanya.

Lalu kali ini, aku yang akan bercerita. Aku akan memintanya mendukungku atas langkah-langkah yang akan kulakukan beberapa tahun ke depan. Aku yakin dia akan dengan bersemangat melakukannya, sama ketika dulu kami duduk bersama dan dia bersemangat mendorongku untuk mengikuti jejaknya mengajar di jurusanku.

Setelah bertemu dengan Bu Ari, aku akan kembali mendapati diriku di dalam ruangan perpustakaan kampus lagi. Kali ini aku akan membenamkan diriku pada kertas-kertas tentang pengajaran bahasa. Aku akan mencari tahu lagi tentang apa yag sedikit kutahu tentang itu. Aku akan melakukannya sampai tahun depan, jika aku punya waktu luang.

Aku akan makin sering bertelepon Skype dengan Sophie di Belanda, Yasu di Jepang, atau Rina di Swedia untuk menggunakan bahasa Inggrisku. Di sini aku bingung barbahasa Inggris dengan siapa, di kelas aku tidak boleh berbahasa Inggris sama sekali, meskipun mereka mahasiswa-mahasiswa asingku tidak mengerti apa yang kukatakan dalam bahasa Indonesia.

Lalu aku juga akan membaca koran-koran di perpustakaan. Kali ini aku tidak akan pilih-pilih kolom mana yang akan kubaca. Kata Mia saringan untuk mndapat dana belajar banyak tentang berita umum.

Aku akan melakukan itu semua. Lalu aku akan belajar apa yang ingin kupelajari. Lalu aku akan mencoret satu dari sekian tulisan di “Daftar Cita-CIta” yang selama ini kusembunyikan di balik rak buku.

Hm. Memikirkannya saja membuatku tak bisa tidur.

9 Oktober 2015

 

 

Just.

Bringing good news is imparting hopes to one’s fellow man. (Patti Smith)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

It is the way to cope with the past failures

And I hope tomorrow my phone ring with another good news