Sang Penulis (1)

Penulis itu terbangun setelah sebuah malam yang menggelisahkan.

Akhir-akhir ini ia terganggu oleh mimpi-mimpi yang menyebalkan _namun kadang juga melenakan_ yang kadang berakhir dengan mimpi buruk yang berusaha ia lepaskan dengan susah payah, meskipun ia sadar bahwa ia sedang bermimpi.

Namun kali ini berbeda.

Semalam, ada suatu hal aneh yang tak dapat ia temukan satu pun penjelasan tentangnya. Biasanya ia berhasil untuk melacak sebagian besar mimpi-mimpinya, walaupun kadang tak bisa ia tuliskan semua. Sangat jarang, seperti sekarang, tidak bisa ia menemukan tali untuk menarik kembali mimpinya itu.

Ia tahu bahwa semalam ia bermimpi, bahwa ia semalam ia berbicara dengan seseorang. Tetapi, tentang apa yang dibicarakan tidak bisa ia mengingatnya. Juga dengan siapa ia bicara. Ada sebuah perasaan sesak tersisa di dadanya, dan ia berusaha meraba dan mencari hal yang menyesakkannya itu. Namun tetap ia tidak bisa menemukan sepotong gambar pun yang semalam muncul di mimpinya itu.

Hampir selalu ia langsung menuliskan mimpi-mimpinya sekejap ia membuka mata di pagi hari. Untuk hal itu selalu terbaring sebatang pensil dan buku catatan kotor di samping tempat tidurnya. Sekarang pun ia memutuskan untuk menuliskan sesuatu di bukunya, walau ia tahu ia tak memiliki gambar apa pun tentang mimpinya. Tapi, setidaknya ia masih bisa menuliskan perasaan-perasaan luar biasa dan aneh yang masih bisa ia rasakan. Perasaan tentang malam tadi. Perasaan terantai, tertindas, gelisah, namun juga rasa penasaran.

Ia meraih pensilnya, yang terasa aneh berada di genggamannya. Seolah jari-jarinya memegang sesuatu benda asing. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Buku catatan kecil nan kotor  itu pun terasa dingin dan kosong. Ia lalu mencari halaman kosong di dalamnya.

Ada beberapa coretan-coretan terhambur di dalam buku itu. Kadang ada pula kalimat-kalimat tertulis vertikal, sejajar dengan garis samping kertas, bahkan ada pula kata-kata yang tertulis terbalik.

Pertama-tama, menurutnya, ia harus menuliskan satu kata kunci tentang mimpinya semalam. Karena dengan itu ia merasa ia tidak akan pernah lupa tentang apa yang akan ditulisnya esok. ‘Penindasan’ adalah kata yang bagus. Namun, pensil itu tidak terasa nyaman berada di genggaman jarinya.

Ia selalu menulis dengan pensil dijepit di antara ibu jari, telunjuk dan jari tengah, tapi sekarang gaya seperti itu terasa tak pernah dikenalnya. Dia mencoba menjepit pensilnya dengan cara lain, tapi hal itu tidak berhasil.

Akhirnya ia memaksakan gaya normal yang biasa ia lakukan, dan menjepit pensilnya keras-keras, berusaha agar benda itu tidak akan tergelincir dari tangannya. Ia berusaha untuk membuat satu titik di atas kertas, namun tak sampai pensilnya menitikkan itu di sana. Ada sesuatu yang menahan tangannya. Rasanya kertas dan pensil itu bertolak belakang, seperti dua kutub yang saling menolak. Seberapapun besar tenaga yang ia keluarkan, titik itu tidak bisa terbubuh di atas kertas.

Ia menatap tangannya dan melihat bahwa tangannya mengerut, dan menggguratkan cakarnya di batang pensil. Ia tidak mengenali tangannya.

Tiba-tiba ada rasa panik yang menjalar tubuhnya dan dengan sekejap mata ia refleks melemparkan buku dan pensilnya di pojok kamar tidurnya. Bingung, ia menatap tangannya, pergelangan tangan, telapak tangan, dan kemudian jari-jarinya. Ia bisa merentangkan jari-jarinya dengan lentur dan kemudian mengepalkannya lagi, dan tidak ada hal aneh yang terlihat. Setiap gerakan tangan yang ingin ia buat, bisa ia lakukan. Apakah ia benar-benar telah terjaga dari tidurnya ataukah ia masih ada dalam mimpinya yang belum usai?

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memungut pensil dan bukunya dari lantai. Sekali lagi pensil itu terasa kosong saat tangannya menyentuhnya. Seakan-akan ia menulis dengan ular-ularan karet yang lembek meliuk-liuk.  Lalu ia meremas keras pensil itu karena ia merasa pensil itu seakan hendak jatuh dari genggaman jemarinya.

Kemudian, tiba-tiba, ada perasaan aneh yang berubah dan menjalar tangannya. Ia mengutuk, panik, karena perasaan itu seakan menusuknya, menjalar sampai ke otak seakan bisa membuatnya limbung karena stroke. Ia tidak pernah sewaspada dan setakut ini selama hidup, namun bukankah kelumpuhan di kedua tangan tidak pernah dating dengan tiba-tiba?

Ia meraih celana dan sweater-nya yang terasa normal seperti biasanya, begitu juga kaus kaki dan sepatunya. Semuanya normal. Jenggot dan kumisnya juga tak terasa aneh, tak ada yang mengkhawatirkan.

Ia berjalan ke ruang kerjanya dan dinginnya lantai yang telanjang merembes ke atas ke kedua kakinya.

Di atas meja kerjanya terletak pena kesukaannya, sebuah pena tinta yang indah. Ia meraihnya dan tiba-tiba ia merasa seakan tersambar petir. Lagi-lagi pena ini juga terasa asing di tangannya dan ketika ia ingin menggoreskan kata dengan pena ini, ia tak juga menemukan sepatah pun kata di atas kertas.

Lututnya terasa lemas dan perasaan mual menghinggapi perutnya. Ia bersandar pada sisi meja kerjanya lalu menjatuhkan diri di kursi di sampingnya. Dengan matanya yang jernih ia menatap lurus ke depan dengan penuh keputusasaan.

Apa yang terjadi? Apa arti semua ini? Ia perlahan mulai menyadari bahwa ada hal yang aneh yang sedang dia alami, namun tidak tentang apa yang sebenar-benarnya tengah terjadi.

Rasa takut luar biasa kemudian menguasainya, dan ia dengan susah payah berusaha untuk menahan diri agar tak berteriak. Ia lalu menemukan di pinggir meja kerjanya ada sebuah tanda dan simbol aneh yang ditempel dengan selotip.

Tanda aneh? Tadinya, di sana, ia menuliskan kata-kata mutiara yang ia tempel dengan merekatkannya dengan berlapis-lapis selotip. Namun, sekarang di sana hanya ada tanda dan simbol yang tak terbaca. Siapa yang mengubahnya?

‘Inspirasi tidak bisa kau paksakan.’ Kalimat itu tadinya ada di sana. Namun, yang tertera sekarang bukanlah huruf-huruf. Ada garis-garis pendek, kotak, lingkaran, dan kadang dengan tanda bintang dan persegi panjang. Ia yakin bahwa susunan tanda-tanda tadi ada tepat di atas tempat kata mutiaranya tadinya tertulis.

Pertama sembilan tanda, lalu lima, lalu empat, dan seterusnya. Apakah huruf-huruf tadi memang benar-benar berubah menjadi tanda dan simbol, ataukah hal itu hanya terjadi di dalam kepalanya?

Rasa panik mulai datang menggantikan keputusasaan yang tadinya merangkak di dalam tubuhnya. Rasa itu ada di dalam kepalanya, Pasti. Hal itu pastilah stroke, pendarahan di otaknya, atau semacamnya. Aku seharusnya lumpuh sekarang, tapi tidak, semua organku masih ada dan bekerja sebagaimana biasanya.

Hanya menulis _pekerjaannya yang tolol itu_ yang tidak berhasil. Dan sekarang bahkan membaca juga tak bisa ia lakukan. Aku telah terdampar di sebuah pulau film horor, pikirnya. Sebuah mimpi horor, yang belum selesai, walaupun aku sadar aku telah terjaga

Sebuah gambar dari masa kecilnya tiba-tiba melintas melewatinya. Ia melihat dirinya sebagai seorang anak kecil tengah berbaring di tempat tidur dan merasa ia ingin kencing. Ia bermimpi ia berdiri dan berjalan ke arah kamar kecil, membuka celananya dengan rapi, dan mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan itu. Ia lalu ingat, malam itu terasa hangat terasa di sekitar pahanya, dan ketika ia bangun ia mendapati dirinya terkencing di atas kasur.

Ini adalah suatu hal yang sering kau alami. Kau bermimpi bahwa kau telah terjaga, sedang kenyataannya kau masih ada di alam mimpi.

Ia juga pernah mendengar sesuatu. Tentang seseorang yang tidak bisa melepaskan diri dari mimpi yang ia alami. Terjebak dalam ilusi sendiri, di dunia mimpi, atau di mimpi buruk yang tengah ia alami, atau mungkin juga seperti dunia yang sedang dialami oleh pasien-pasien yang koma atau pasien Alzheimer.

Seakan sebuah kebohongan besar sedang dalam jalannya untuk mencarimu. Apakah ini adalahsebuah kebohongan besar? Apakah hidup ini bukanlah benar-benar kehidupan, dan dunia adalah dunia imaji? Dan cahaya bersinar terbalik, jadi dirimu selalu terlihat bersinar benderang.

……………………………………..

Advertisements

Dialog (2)

“Begitulah aku hidup. Keluargaku bukanlah keluarga yang lazim kubaca di cerita-cerita di buku sekolah. Bukan pula semanis cerita kawan-kawan tentang ayah mereka yang setia mengantar jemput ketika bersekolah. Kadang aku iri, memang. Namun begitulah. Aku merasa aku memang patut untuk membenci ayahku.”

“Aku merasa lelah dengan kehidupanku. Usiaku tak muda lagi, dan aku ingin mencari kedamaian di waktuku menjelang menutup mata. Lalu aku memutuskan hal itu. Aku ingin berpisah dengan ibu anak-anakku.”

“Lalu terjadilah hal itu. Malam itu salah satu malam terdingin di bulan Agustus, empat tahun setelah peristiwa yang kuceritakan tadi. Ayahku memanggilku dan kakakku, yang beberapa malam sebelumnya ditelepon untuk pulang ke rumah. Ayahku mengumpulkan kami. Aku, kakakku, dan ibuku. Hanya kami berempat karena kukira ayahku tidak ingin kedua anak bungsunya mengikuti diskusi ini. Terlalu muda mereka. Ia berdehem sebentar setelah kami semua duduk di kursi  anyam di ruang tamu. Lalu ia mulai berkata.. ia ingin dipisahkan dengan ibuku. Aku terhenyak.

Ia melanjutkan perkataannya. ‘Aku sudah tua, saatnya aku mencari kedamaian di hidupku. Kalian tahu, anak-anakku, ayahmu tidak bahagia hidup di sini. Kalian mengerti, ayahmu tidak bisa hidup di sini bersama dengan ibumu. Aku rasa itu pula yang kalian inginkan, membiarkanku dan ibumu bahagia dengan jalan kami masing-masing. Ayahmu ingin pulang ke nenekmu, biarkan aku hidup sendiri di sana di rumah samping  kuburnya. Biarkan aku pulang, dan kalian di sini menemani ibumu. Tidak ada mantan anak, anak-anakku. Andaikata kalian ada di bumi, dan aku ada di planet tak diketahui, aku tetaplah ayah kalian. Kalian tetap akan kulihat, kujaga, kulindungi. Jika jauh aku akan terbang, jika dekat aku akan melangkahkan kaki.’

Aku tercekat, tak menyangka akan mendengar hal seperti itu dari orang yang kubenci selama dua puluh tahun. Ia melanjutkan, ‘Pernikahan ayah dan ibumu tidak benar, anak-anakku. Begitu banyak perbedaan kami. Aku tidak membenci ibumu, aku memandangnya masih dengan pandangan yang sama ketika aku pertama bertemu dengannya. Tapi ada hal-hal di dunia ini yang seharusnya memang tidak pernah dipaksakan. Aku memaksakan, dan akibatnya aku tidak bahagia.’ Aku tak mengerti maksud ayahku, tapi aku terisak tertahan. Lalu ia berkata, ’Ibumu tidak pernah memandangku.’

Bayangan tentang kebencian yang kurasakan perlahan luluh menjadi perasaan iba dan bersalah begitu aku mendengar suaranya yang bergetar. ‘Ya Allahku, Gusti, salah apa aku sampai aku hidup begini.’ sambungnya. Tangisnya pecah. Ya, ayahku menangis tersedan. Wajah kaku tanpa senyum yang sering kulihat kini berubah menjadi raut muka menyedihkan. Laki-laki tua menyedihkan dengan guratan-guratan garis hidup dan rambut putih yang mendahului usianya yang semestinya. Ia menangis selayaknya anak kecil yang mengadu kepada ibunya setelah seharian tak berjumpa. Menangis, menumpahkan semua lara yang ia pendam. Kami berempat menangis. Ibuku menangis tanpa suara, namun air matanya begitu banyak membanjiri pipi.”

“Telah kuutarakan niatku pada anak-anakku dan ibunya. Mereka tersedu, tanpa memberikan putusan atas apa yang telah kusampaikan. Aku  mencoba semampuku untuk mengatakan kemauanku, dan itu bukanlah hal yang mudah. Bayangan kedua anak bungsuku yang nanti akan hidup jauh dariku sedikit menahanku, namun kesedihan karena hidup bersama ini telah melebihi batasku. Kukatakan pada mereka bahwa aku tidak merasa berharga di rumah. Hanya dengan kekuatan dan bentakan yang akan menunjukkan keberadaanku di rumah. Walau aku tahu itu tidak benar.

Anak keduaku tiba-tiba berdiri sambil tesedu sedan. Suaranya bergetar karena tak bisa menahan isaknya. ‘Ayah,’ katanya. ‘Selama dua puluh tahun aku membenci ayah. Tak pernah sekalipun dari diriku yang pernah mengatakan bahwa aku menyayangimu dan menghormatimu, aku pun yakin ayah tidak pernah membayangkan dan mengharapkannya dariku. Aku telah dengan sebelah mata menghakimimu sebagai ayah yang tak pernah berhati lembut. Maafkan aku.’ Dia terus mengulang kata maaf dan memintaku untuk membiarkannya memulai semuanya dari awal.”

“Malam itu aku naik ke kasurku dengan perasaan campur aduk. Mengetahui fakta bahwa ayahku tak seperti yang kukira selama ini, dan bahwa ada alasan-alasan di balik sikapnya yang kubenci selama ini membuatku tak mampu memejamkan mata. Satu alasan sederhana yang kemudian menjadi besar, seperti sepotong sampah yang mengundang sampah lain menjadi menggunung saat tak segera dibersihkan. Sikap dan sifatnya yang selama ini kukenal adalah akibat dari sampah yang telah terlanjur menggunung itu. Kudapati air mata terus mengalir dari kelopak mataku. Di tengah kegelapan, aku mendengar suara dua orang bercakap di ruang tengah rumahku. Suara ayahku dan kakakku. Ayahku berbicara dengan suara tercekat, sedikit menangis. Ia berkata bahwa betapa ia ingin bisa bercerita keluh kesahnya setiap hari dengan anak-anaknya. Bahwa ia ingin sekedar berbicara, dan ada yang mendengarkannya. Bahwa dia mencintai kami sepenuh hatinya tapi tak tahu harus bagaimana ia berbuat karena dinding pemisah yang terbentuk sudah terlalu tinggi, terakumulasi dari amarah-amarahnya yang tak terbendung. Lalu dia berkata,’Demi Allah, dulu aku bukanlah orang yang bahkan mampu untuk membunuh seekor semut. Mengapa aku begini.’ Dan ia menangis tersedu lagi.

Kuakui saat aku pertama mendengar ayahku menangis malam itu, ada perasaan kecewa kepada ibuku yang membiarkan kami bersekutu dengannya untuk membenci ayahku. Aku dikecewakan dengan ujaran-ujarannya tentang betapa ayahku tidak pernah membantu kehidupan keluarga, betapa ayahku menghamburkan uang demi kesenangan sendiri, betapa ayahku merusak keluarga ini dengan amarahnya, dan betapa-betapa yang lainnya.. aku kecewa aku telah mendengar semua itu dan memupuk rasa benciku pada ayah lebih besar lagi.

Lalu aku menyadari, yang membentuk keadaan ini menjadi seperti ini sebagian adalah diriku. Aku adalah salah satu pembuang sampah di gundukan sampah tadi. Aku menghakiminya dan aku menutup telingaku atas apa yang ingin ia sampaikan, sedang aku hanya menerima cerita-cerita dari satu pihak saja, dari ibuku. Aku telah bersikap tak adil dengan persekutuanku dengan ibu, hanya dengan ibu, dan tak mengacuhkan keberadaan ayahku. Aku kecewa, namun aku tidak menyalahkan ibuku, karena kusadar ia juga sama seperti ayahku yang membutuhkan tempat untuk berbagi keluh kesah. Kesalahan ada pada diriku yang akhirnya membentuk ayahku menjadi seorang pemarah yang pernah hampir membuat anaknya sekarat. Aku tahu itu sebagian kesalahanku.

Dan aku menyadari satu hal lagi, bahwa ayahku sangat mencintai ibuku. Cinta yang begitu dalam sampai cinta itu menyakiti hatinya. Ayahku terlalu mencintainya dengan cara (yang akhirnya) salah. Ia ingin keberadaanya diakui oleh ibuku dengan kekerasan yang ia lakukan. Dengan memukulnya, dengan membentaknya. Ia ingin menunjukkan pada ibuku bahwa ia ‘ada’. Sedang ibuku, yang juga sedikit salah karena tak ‘memandangnya’ dari dulu, semakin tak menganggap ayahku sebagai kepala keluarga, karena kekerasan itu. Aku mendesah, tak tahu dari mana _dan siapa_ aku harus memperbaiki keluarga ini.

Kemudian aku teringat secuil episode masa lalu, ketika tubuhku sedang dengan mudahnya ambruk karena suatu penyakit. Malam itu, aku tengah bercanda di sebuah pesta temanku ketika tiba-tiba aku jatuh tak sadarkan diri. Ketika kubuka mata yang kulihat adalah ibuku, kakak adikku, dan ayahku, di ruang gawat darurat. Kuperhatikan jaket coklat tebal yang ia kenakan ia pakai dengan sisi dalam di luar. Terbalik. Ia hanya mengenakan sesisi sandalnya. Ia diam memandangku dari pojok ruangan itu. Kulihat sorot mata ayahku memancarkan kekhawatiran. Sekali lagi aku tersadar, selama ini aku menutupi episode cinta ayahku itu dengan kebencian yang terlanjur kupupuk. Tengah malam itu, di dalam kamar tak bercahaya, aku menangis.”

Dialog (1)

“Kukira aku akan mati muda. Maksudku, aku sekarang juga masih terbilang muda, namun kupikir aku akan mati di usiaku yang belum genap 17 tahun. Saat itu aku mendapati diriku limbung dengan darah mengalir dari hidungku. Aku tak lagi bisa melihat sekelilingku dengan jelas, ketika sedikit demi sedikit ruangan terasa berputar. Dalam mata terpejam aku melihat kamar berotasi semakin cepat, semakin cepat, semakin cepat, dan semuanya tampak membesar. Aku merasa sesak saat atap kamar yang berputar itu semakin mendekat kepadaku seakan akan menghimpitku dengan lantai. Aku merasa mual, ditambah dengan rasa sakit di pangkal hidungku yang terus-terusan mengeluarkan darah. Aku tak lagi mendengar suara-suara di sekitarku. Terasa gelap dan sepi. Yang kuingat sebelum itu semua terjadi aku sedang bertengkar dengan ayahku. Kami berteriak-teriak, dan ibuku tersedu.”

“Aku kehilangan kesabaranku, dan kesadaranku. Darahku terasa mendidih dan tanganku bergerak sesuai dengan apa yang ia kehendaki. Saat itu otakku tak bekerja untuk mengendalikannya. Teriakanteriakannya menyumbat telingaku dan menyumbat hatiku. Aku menghajarnya. Aku tak ingat berapa kali aku menjatuhkan kepalan tanganku yang, aku juga tak tahu mengapa, begitu keras mengeras seperti batu ke atas kepalanya. Pukulanku semakin menjadi kala kudengar ia berseru bahwa ia tak takut dengan tinjuku, bahwa ia lebih baik menerima itu semua dari pada ibunya yang mendapatkannya. Kurasakan tangan ibunya berusaha untuk menghentikanku sambil berteriak. Namun aku tak mau tahu. Yang kutahu kala itu adalah anak di depanku telah membuatku sangat gusar. Lalu darah keluar dari hidungnya. Aku melihatnya, namun aku tak bisa menghentikan amarah yang ada dalam kepalan tanganku. Aku tahu dia kesakitan, namun aku tidak bisa mengendalikan diriku. Tidak, ketika kudapati badannya ambruk. Dan darahnya tercecer.”

“Saat aku terbangun aku berada di atas tempat tidurku. Darah telah berhenti mengalir dari hidungku, tapi kepalaku masih terasa berputar-putar. Lalu kulihat kedua adikku duduk di sampingku. Air mata mengalir di pipi mereka. Adik-adikku masih terlalu kecil untuk melihat itu semua, munurutku. Saat itu mereka hanya anak kecil berumur 10 dan 8 tahun. Lalu aku ingat mereka berteriak histeris menyebut-nyebut kata ‘ayah’, saat ayahku menghajarku. Berusaha menghentikan ayahku dengan seruan mereka. Aku berusaha mencari keberadaan ibuku. Tak kudapati ia di rumah. Belakangan kutahu ia pergi ke rumah atasan ayahku. Ayahku bekerja di kantor pos. Pekerjaan yang bagus pada jaman dahulu, sebelum virus surat elektronik menjangkiti semua orang tentunya. Menurut ibu, atasan ayahku adalah seseorang yang mampu menolong masalahnya, bahwa suaminya adalah seorang pelaku kekerasan rumah tangga.

Aku juga selalu membenci ayahku. Setidaknya selama dua puluh tahun lebih hidupku aku selalu menganggap ayahku adalah sumber masalah untuk ibuku. Aku tahu dari ibuku bahwa uang yang kupakai untuk sekolah, uang yang dikirimkan kepada kakakku yang sedang belajar di luar kota, uang untuk membeli susu dan buku adik-adikku adalah uang ibu. Ibuku memang pekerja keras, ia bekerja sebagai carik di desaku, dan masih sering melakukan pekerjaan-pekerjaan lain yang bisa ia lakukan ketika jamnya mengabdi di kantor lurah sudah usai. Ibuku begitu pekerja keras, hingga kadang beliau pulang ke rumah saat kami semua sudah terlelap. Dan ayahku sering meledak amarahnya karena hal itu. Ketika hal itu terjadi, aku selalu kembali memasang posisi membela ibu. Bahwa nasi yang kumakan adalah nasi ibuku, hingga ia bekerja sampai larut, maka dari itu aku berteriak bahwa ia tak patut untuk menumpahkan amarahnya kepada ibuku. Kadang aku berusaha menyerangnya kembali, bahwa aku tak pernah mendapatkan uang darinya, bahwa apa yang ia lakukan hanya bermain kartu di sarang-sarang penjudi dengan uang taruhan yang seharusnya bisa kugunakan untuk membeli buku baru. Segera setelah aku berkata begitu, pasti ayahku akan menamparku dan aku sebisa mungkin menahan air mataku. Aku selalu tak ingin menangis saat aku bertengkar dengan ayahku. Aku tak mau terlihat ringkih di depannya.”

“Aku tahu ia membenciku. Dari sorotan matanya aku bisa menyimpulkan seperti itu. Aku tak pernah mendengarnya bercerita padaku tentang hariharinya di sekolah, atau tentang anak laki-laki yang katanya mulai menyukainya. Aku bahkan lupa kapan terakhir kali kami bersendagurau. Aku ingat kala ia kelas dua sekolah menengah atas, kala ia dan kawan-kawannya akan mengadakan darma wisata. Uang sebesar lima ratus ribu rupiah untuk membayarnya tak dimiliki oleh ibunya. Kemudian mau tak mau ia dihadapkan pada pilihan untuk tak ikut bersenang-senang, atau meminta padaku. Aku tahu dia tak akan mau meminta padaku. Lalu selama seminggu dia hanya mengurung diri di kamarnya, merasa sedih tak bisa ikut bersukaria bersama kawannya. Aku bukannya tak ingin memberinya uang itu, namun aku juga tak bisa begitu saja berbicara dengannya. Aku ingin memberinya. Dan dengan memberinya uang sebenarnya aku kemudian bisa menunjukkan kepada ibunya bahwa aku pun memberi kepada anakku. Aku betul-betul lelah mendengar mulut besarnya yang mengatakan bahwa semua kebutuhan hidup dia yang mencukupi. Aku laki-laki, dan jika kau tahu, laki-laki tak menyukai perasaan dianggap tak berguna.

Rumahku tidak menjadi rumah untukku. Aku memang selalu pulang untuk melihat anak-anakku. Sekedar memastikan kedua anak terakhirku sudah ada di rumah setelah mereka bersekolah, dan, kadang-kadang, ingin mencoba menyapa anak keduaku itu. Aku lebih sering menghabiskan waktuku di luar rumah. Tak tahan rasanya aku menjadi orang asing tak teracuhkan di rumahku sendiri. Sore hari, ketika pekerjaanku menyortir surat dan paket pos telah selesai, aku selalu menghabiskan waktuku untuk bercengkerama dengan orang-orang di pos ojek di gapura masuk desaku. Aku selalu betah berada di sana yang lebih memberikan keramaian dibandingkan rumahku sendiri. Aku tahu anak-anakku tak menyukai ayahnya berkeliaran di sana bersama dengan tukang ojek dan, kadang-kadang, preman-preman kampung. Tapi di sanalah kadang aku menemukan kesenanganku dan pelarianku.”