And above all, process is all that matters.

When I was a student I’m sure I was pretty much a grade topper. I belonged to 5-10% of the best students in my major. But I didn’t work hard. Some of my friends said they hated me everytime a test result came out because I got a good grade even though they thought I didn’t study hard as they did.

I agree. I was a procrastinator at my best. I didn’t do assignments to the very last minute before the deadlines. I didn’t study much. I only did my best on one or two subects that I really liked the most (the only subjects that attracted me were linguistics and the foreign languages), even though I also did it very rarely. Most of the time I just did something that was fun for me like watching movies and dramas, and sometimes reading comic books and novels. My attitude towards learning at that time was very low. But I did good with the grades anyway.

I may say I was a naturally good test doer despite the lack of study efforts and will to learn. So even though I got good grades, I was only stuck there and not went any higher and any better. So my friends who I knew spent the most of their nights studying get score slightly better than me. I said slightly, because it really was. But again, nurture can beat nature. And the universe knows who makes the most efforts.

It was the time when my major gave scholarship to study abroad for summer course. That was in my sophomore year. My professors who only knew about my grades (of course they thought I studied hard because of it) often said since my first year that I would be able to get that scholarship if I kept on doing like this (I mean, like what?). But I was conceited anyway, and thought that she might be right and I felt assured about getting that scholarship.

Beside based on the grades, the scholarship required a certificate of the attendance of a summer course held here in Jakarta, which we could get if we attended at least 90% of all classes. Bad luck then struck me _because that was the way the universe did to warn me to do not take everything for granted, I just realised. I was in my hometown back then because my sister had some kind of a newborn baby ceremony. I missed one class, and I thought that was okay I still had 90%. And in the morning, the next day, on my way to the course place, the traffic was extremely terrible. So I missed that day and lost my 90% attendance which meant I lost the chance to get the certificate which meant the chance to get the scholarship decreased…

I still had expectation though. I thought I would still be saved by my grades. But no, of course. I was placed on number 9 on the list and all 8 students above me got that scholarship. And they were the ones who I knew put so much effort on learning and did their best. One of my friend who got one once said that I was originally on the list, even on ones of the highest candidates. But the profs had to bring me down due to the shortage of the documents required. I was so broken. I was so upset. I have been, and sometimes I am, because that scholarship was one of the reasons why I chose my major. I spent the rest of my school years resenting myself. I blamed the universe for not conspiring to make it happen to me (simply because I wanted to blame on someone but I didn’t want to admit that was all my fault). But, yeah, I’m writing this in order to get rid the burden that sometimes still haunts me, the face of a failure because of the arrogance and indolence I had.

I finally graduated and now I’m working in my campus as a language teacher. I still get a chance to meet my previous professors who still think I’m their one of the best students. Couple of months ago, we sat together in a cafe when one of their friend (another professor from another major) joined us. And my prof said, intruducing me to her: Here, Rury. She’s one of our bests and now we are convincing her to become a junior lecturer in our major.”

Sounds like I should have been proud, shouldn’t I? But I was not. Because deep down I knew that I was not that worth to be proud. That was just all lie about my grade, about my learning. That was nothing so special about me

So there I have been: guilty to myself, angry to myself, anxious about myself. I wanted to move on, to not dwell on the past failures and to make all lies become the truth: that I really am one of my professors’ best students. I wanted to be someone I will always be proud of. I wanted to fix myself.

Results never betray efforts, and above all, process is all that matters.

is my world

A little sweet

A little sour

A little close

Not too far

All I need, all I need is to be free.

 

It’s close enough to touch

But disappears like a mirage

Woven of dreams, warm as sweaters

Beyond the white clouds

Is my world

 

Let me in without a shout

Let me in, I have a doubt

There are more, many more

Many, many, many more like me

 

I’m not alone

Dream walking, wide eyed

Stepping, stumbling

Yet I have no doubt

Just like the setting sun, will rise again

My world, once revealed, will astound everyone.

 

Open eyed, how I run, how I run to the other side

Then I glide like a bird

I just want to be

 

A thousand wings to fly

To explore open skies

So many turns to take

Paths to follow

And discover my world

 

These few days of childhood will never return

So live it up now, my friend

On credit, if you’re broke

Live it up.

Selama setahun ke depan..

Malam ini semangatku kembali menggebu. Sudah beberapa jam semenjak aku menutup novel ‘Negeri Bahagia’ku, mengambil segelas air putih, dan mematikan lampu. Mataku tak ingin segera terpejam. Gejolak mimpi yang semakin malam semakin mendidih, semakin membuatku merasa senang dan berdebar.

Aku terserap pada gambar-gambar buatanku sendiri tentang apa yang akan kulakukan esok hari. Aku akan berada di sebuah ruangan penuh buku, perpustakaan kampus. Aku akan membuka halaman demi halaman buku-buku itu, aku akan mencari kata-kata bagus yang bisa kukutip dan kumasukkan ke dalam tulisanku. Selama satu minggu aku akan mendapati diriku di situ dan melakukan itu.

Lalu pada hari ketujuh atau kedelapan, aku akan mengirim pesan pendek kepada dosenku, dan dengan berbangga hati aku akan menunjukkan hasil kerjaku itu. Aku harap dia akan menyukainya dan akan memasukkannya ke dalam ‘Jurnal Sosiolinguistik’. Dan akan ada namaku di situ.

Lalu aku akan mengajak dosen tersayangku, Bu Ari untuk minum kopi bersama. Kali ini aku yang akan membayar minuman kami. Minggu lalu kami juga bertemu di cafe kecil di dalam kampus dan kami berbicara banyak hal. Ah tidak, beliau yang berkisah banyak, dan aku mendengar dan menimpali. Kisah-kisah beliau selalu menyenangkan untuk didengar. Tapi minggu depan aku yang akan bercerita. Aku akan bercerita tentang cita-citaku yang lain. Beliau telah tahu banyak apa yang ingin kulakukan dan kumiliki di dunia, dan mendukungnya. Kuingat pertama kali yang  beliau tanyakan padaku saat kuliah dulu: Nak, apa cita-citamu? Lalu aku berkata: Saya ingin keliling dunia. Lalu ia menjawab: Mimpimu terlalu kecil, Nak. Itu terlalu mudah dilakukan. Bercitalah sebuah cita yang terasa sulit dilakukan, itu namanya cita-cita. Kalau itu mudah, bukan cita-cita namanya.

Lalu kali ini, aku yang akan bercerita. Aku akan memintanya mendukungku atas langkah-langkah yang akan kulakukan beberapa tahun ke depan. Aku yakin dia akan dengan bersemangat melakukannya, sama ketika dulu kami duduk bersama dan dia bersemangat mendorongku untuk mengikuti jejaknya mengajar di jurusanku.

Setelah bertemu dengan Bu Ari, aku akan kembali mendapati diriku di dalam ruangan perpustakaan kampus lagi. Kali ini aku akan membenamkan diriku pada kertas-kertas tentang pengajaran bahasa. Aku akan mencari tahu lagi tentang apa yag sedikit kutahu tentang itu. Aku akan melakukannya sampai tahun depan, jika aku punya waktu luang.

Aku akan makin sering bertelepon Skype dengan Sophie di Belanda, Yasu di Jepang, atau Rina di Swedia untuk menggunakan bahasa Inggrisku. Di sini aku bingung barbahasa Inggris dengan siapa, di kelas aku tidak boleh berbahasa Inggris sama sekali, meskipun mereka mahasiswa-mahasiswa asingku tidak mengerti apa yang kukatakan dalam bahasa Indonesia.

Lalu aku juga akan membaca koran-koran di perpustakaan. Kali ini aku tidak akan pilih-pilih kolom mana yang akan kubaca. Kata Mia saringan untuk mndapat dana belajar banyak tentang berita umum.

Aku akan melakukan itu semua. Lalu aku akan belajar apa yang ingin kupelajari. Lalu aku akan mencoret satu dari sekian tulisan di “Daftar Cita-CIta” yang selama ini kusembunyikan di balik rak buku.

Hm. Memikirkannya saja membuatku tak bisa tidur.

9 Oktober 2015

 

 

Just.

Bringing good news is imparting hopes to one’s fellow man. (Patti Smith)

 

 

 

 

 

 

 

 

 

It is the way to cope with the past failures

And I hope tomorrow my phone ring with another good news

Sang Penulis (1)

Penulis itu terbangun setelah sebuah malam yang menggelisahkan.

Akhir-akhir ini ia terganggu oleh mimpi-mimpi yang menyebalkan _namun kadang juga melenakan_ yang kadang berakhir dengan mimpi buruk yang berusaha ia lepaskan dengan susah payah, meskipun ia sadar bahwa ia sedang bermimpi.

Namun kali ini berbeda.

Semalam, ada suatu hal aneh yang tak dapat ia temukan satu pun penjelasan tentangnya. Biasanya ia berhasil untuk melacak sebagian besar mimpi-mimpinya, walaupun kadang tak bisa ia tuliskan semua. Sangat jarang, seperti sekarang, tidak bisa ia menemukan tali untuk menarik kembali mimpinya itu.

Ia tahu bahwa semalam ia bermimpi, bahwa ia semalam ia berbicara dengan seseorang. Tetapi, tentang apa yang dibicarakan tidak bisa ia mengingatnya. Juga dengan siapa ia bicara. Ada sebuah perasaan sesak tersisa di dadanya, dan ia berusaha meraba dan mencari hal yang menyesakkannya itu. Namun tetap ia tidak bisa menemukan sepotong gambar pun yang semalam muncul di mimpinya itu.

Hampir selalu ia langsung menuliskan mimpi-mimpinya sekejap ia membuka mata di pagi hari. Untuk hal itu selalu terbaring sebatang pensil dan buku catatan kotor di samping tempat tidurnya. Sekarang pun ia memutuskan untuk menuliskan sesuatu di bukunya, walau ia tahu ia tak memiliki gambar apa pun tentang mimpinya. Tapi, setidaknya ia masih bisa menuliskan perasaan-perasaan luar biasa dan aneh yang masih bisa ia rasakan. Perasaan tentang malam tadi. Perasaan terantai, tertindas, gelisah, namun juga rasa penasaran.

Ia meraih pensilnya, yang terasa aneh berada di genggamannya. Seolah jari-jarinya memegang sesuatu benda asing. Sesuatu yang tidak pernah ada sebelumnya. Buku catatan kecil nan kotor  itu pun terasa dingin dan kosong. Ia lalu mencari halaman kosong di dalamnya.

Ada beberapa coretan-coretan terhambur di dalam buku itu. Kadang ada pula kalimat-kalimat tertulis vertikal, sejajar dengan garis samping kertas, bahkan ada pula kata-kata yang tertulis terbalik.

Pertama-tama, menurutnya, ia harus menuliskan satu kata kunci tentang mimpinya semalam. Karena dengan itu ia merasa ia tidak akan pernah lupa tentang apa yang akan ditulisnya esok. ‘Penindasan’ adalah kata yang bagus. Namun, pensil itu tidak terasa nyaman berada di genggaman jarinya.

Ia selalu menulis dengan pensil dijepit di antara ibu jari, telunjuk dan jari tengah, tapi sekarang gaya seperti itu terasa tak pernah dikenalnya. Dia mencoba menjepit pensilnya dengan cara lain, tapi hal itu tidak berhasil.

Akhirnya ia memaksakan gaya normal yang biasa ia lakukan, dan menjepit pensilnya keras-keras, berusaha agar benda itu tidak akan tergelincir dari tangannya. Ia berusaha untuk membuat satu titik di atas kertas, namun tak sampai pensilnya menitikkan itu di sana. Ada sesuatu yang menahan tangannya. Rasanya kertas dan pensil itu bertolak belakang, seperti dua kutub yang saling menolak. Seberapapun besar tenaga yang ia keluarkan, titik itu tidak bisa terbubuh di atas kertas.

Ia menatap tangannya dan melihat bahwa tangannya mengerut, dan menggguratkan cakarnya di batang pensil. Ia tidak mengenali tangannya.

Tiba-tiba ada rasa panik yang menjalar tubuhnya dan dengan sekejap mata ia refleks melemparkan buku dan pensilnya di pojok kamar tidurnya. Bingung, ia menatap tangannya, pergelangan tangan, telapak tangan, dan kemudian jari-jarinya. Ia bisa merentangkan jari-jarinya dengan lentur dan kemudian mengepalkannya lagi, dan tidak ada hal aneh yang terlihat. Setiap gerakan tangan yang ingin ia buat, bisa ia lakukan. Apakah ia benar-benar telah terjaga dari tidurnya ataukah ia masih ada dalam mimpinya yang belum usai?

Ia bangkit dari tempat tidurnya dan memungut pensil dan bukunya dari lantai. Sekali lagi pensil itu terasa kosong saat tangannya menyentuhnya. Seakan-akan ia menulis dengan ular-ularan karet yang lembek meliuk-liuk.  Lalu ia meremas keras pensil itu karena ia merasa pensil itu seakan hendak jatuh dari genggaman jemarinya.

Kemudian, tiba-tiba, ada perasaan aneh yang berubah dan menjalar tangannya. Ia mengutuk, panik, karena perasaan itu seakan menusuknya, menjalar sampai ke otak seakan bisa membuatnya limbung karena stroke. Ia tidak pernah sewaspada dan setakut ini selama hidup, namun bukankah kelumpuhan di kedua tangan tidak pernah dating dengan tiba-tiba?

Ia meraih celana dan sweater-nya yang terasa normal seperti biasanya, begitu juga kaus kaki dan sepatunya. Semuanya normal. Jenggot dan kumisnya juga tak terasa aneh, tak ada yang mengkhawatirkan.

Ia berjalan ke ruang kerjanya dan dinginnya lantai yang telanjang merembes ke atas ke kedua kakinya.

Di atas meja kerjanya terletak pena kesukaannya, sebuah pena tinta yang indah. Ia meraihnya dan tiba-tiba ia merasa seakan tersambar petir. Lagi-lagi pena ini juga terasa asing di tangannya dan ketika ia ingin menggoreskan kata dengan pena ini, ia tak juga menemukan sepatah pun kata di atas kertas.

Lututnya terasa lemas dan perasaan mual menghinggapi perutnya. Ia bersandar pada sisi meja kerjanya lalu menjatuhkan diri di kursi di sampingnya. Dengan matanya yang jernih ia menatap lurus ke depan dengan penuh keputusasaan.

Apa yang terjadi? Apa arti semua ini? Ia perlahan mulai menyadari bahwa ada hal yang aneh yang sedang dia alami, namun tidak tentang apa yang sebenar-benarnya tengah terjadi.

Rasa takut luar biasa kemudian menguasainya, dan ia dengan susah payah berusaha untuk menahan diri agar tak berteriak. Ia lalu menemukan di pinggir meja kerjanya ada sebuah tanda dan simbol aneh yang ditempel dengan selotip.

Tanda aneh? Tadinya, di sana, ia menuliskan kata-kata mutiara yang ia tempel dengan merekatkannya dengan berlapis-lapis selotip. Namun, sekarang di sana hanya ada tanda dan simbol yang tak terbaca. Siapa yang mengubahnya?

‘Inspirasi tidak bisa kau paksakan.’ Kalimat itu tadinya ada di sana. Namun, yang tertera sekarang bukanlah huruf-huruf. Ada garis-garis pendek, kotak, lingkaran, dan kadang dengan tanda bintang dan persegi panjang. Ia yakin bahwa susunan tanda-tanda tadi ada tepat di atas tempat kata mutiaranya tadinya tertulis.

Pertama sembilan tanda, lalu lima, lalu empat, dan seterusnya. Apakah huruf-huruf tadi memang benar-benar berubah menjadi tanda dan simbol, ataukah hal itu hanya terjadi di dalam kepalanya?

Rasa panik mulai datang menggantikan keputusasaan yang tadinya merangkak di dalam tubuhnya. Rasa itu ada di dalam kepalanya, Pasti. Hal itu pastilah stroke, pendarahan di otaknya, atau semacamnya. Aku seharusnya lumpuh sekarang, tapi tidak, semua organku masih ada dan bekerja sebagaimana biasanya.

Hanya menulis _pekerjaannya yang tolol itu_ yang tidak berhasil. Dan sekarang bahkan membaca juga tak bisa ia lakukan. Aku telah terdampar di sebuah pulau film horor, pikirnya. Sebuah mimpi horor, yang belum selesai, walaupun aku sadar aku telah terjaga

Sebuah gambar dari masa kecilnya tiba-tiba melintas melewatinya. Ia melihat dirinya sebagai seorang anak kecil tengah berbaring di tempat tidur dan merasa ia ingin kencing. Ia bermimpi ia berdiri dan berjalan ke arah kamar kecil, membuka celananya dengan rapi, dan mulai melakukan apa yang ingin dia lakukan itu. Ia lalu ingat, malam itu terasa hangat terasa di sekitar pahanya, dan ketika ia bangun ia mendapati dirinya terkencing di atas kasur.

Ini adalah suatu hal yang sering kau alami. Kau bermimpi bahwa kau telah terjaga, sedang kenyataannya kau masih ada di alam mimpi.

Ia juga pernah mendengar sesuatu. Tentang seseorang yang tidak bisa melepaskan diri dari mimpi yang ia alami. Terjebak dalam ilusi sendiri, di dunia mimpi, atau di mimpi buruk yang tengah ia alami, atau mungkin juga seperti dunia yang sedang dialami oleh pasien-pasien yang koma atau pasien Alzheimer.

Seakan sebuah kebohongan besar sedang dalam jalannya untuk mencarimu. Apakah ini adalahsebuah kebohongan besar? Apakah hidup ini bukanlah benar-benar kehidupan, dan dunia adalah dunia imaji? Dan cahaya bersinar terbalik, jadi dirimu selalu terlihat bersinar benderang.

……………………………………..

Untuk Temanku

Aku sedang menyukai memikirkan beberapa hal yang sedang kumiliki di dunia ini agar aku bisa bersyukur. Lalu aku memikirkan tentang beberapa kisah manis antara aku dan teman-temanku. Lalu aku memikirkan tentang apa yang telah kuberi pada mereka, dan apa yang telah mereka beri padaku. Lalu pikiran-pikiran yang muncul menggiringku pada sebuah kebersyukuran, tentang betapa hebatnya mereka para komradeku, dan betapa beruntungnya aku memilikinya.

Cinta, tawa, kesetiaan, dukungan, nasihat, pertolongan, kepercayaan, keteguhan, pertalian, kejujuran, penerimaan, pemaafan, dan kasih. Seseorang untuk berbagai setiap hal kecil yang ada di dunia. Ah, hal besar juga!

Mereka menceburkan diri pada hal remeh temeh yang dimiliki orang lain, suka rela. Dan dengan itu mereka dan aku mengenal lebih dalam dan lebih dalam lagi. Oh, betapa perkawanan adalah sebuah keistimewaan.

Persahabatan adalah keistimewaan. Ia tak bisa dipaksa, tak bisa pula didesak. Ia harus dibiarkan tumbuh sejalan dengan waktu yang membesarkannya. Beberapa persahabatan membutuhkan banyak tahun untuk membuatnya besar dan kokoh, banyak yang tidak. Persahabatan adalah seni. Ia harus terus berlatih sebelum ia menjadi sempurna.

Aku memiliki banyak teman di hidupku. Beberapa masuk dan keluar, beberapa ada di sisiku dari masa yang tak lagi kuingat tepatnya. Mereka telah mengajariku sesuatu. Mereka menginspirasiku. Aku mengagumi kebaikan mereka dan melupakan kelemahan mereka. Karena mereka pun begitu padaku. Kepercayaanku terhadap kebaikan manusia tumbuh besar karena adanya mereka.

Wonosobo kabupaten termiskin?

Saya kira kesenjangan ekonomi yang begitu terlihat mencolok hanya ada di kota-kota besar. Di Jakarta, tempat ter-mainstream untuk merantau, anak kecil berlalu-lalang menadahkan tangan sambil mengiba memelas begitu mudah ditemui. Suatu kelaziman. Namun, siang ini, saya sedikit dibuat kaget dengan kejadian yang saya alami di kota kecil kelahiran saya, Wonosobo. Pasalnya, ketika saya dan ibu saya tengah asyik berjalan di trotoar kaki lima sedang ibunda juga sibuk tawar menawar dengan pedagang mangga, seorang anak lelaki usia sekitar 7 atau 8 tahun menghampiri dan menggamit tangan saya. Kaget, dia langsung berkata “Mbak, nyuwun artane.. ngge tumbas maem” (Mbak, minta uangnya..  untuk beli makan). Tangannya menadah dan wajahnya sedikit mengiba. Sempat tak berkata karena otak saya lama mencerna kejadian yang sedang terjadi, saya pun cuma menyikut lengan ibu saya, meminta beliau  yang kemudian menuruti permintaan si adik itu dengan menjulurkan selembar pecahan limaribuan. Si bocah lelaki itu langsung bilang maturnuwun dan berlalu meninggalkan kami.

Masih agak bingung menyusun reasoning puzzle yang tepat atas kejadian barusan, saya pun bertanya kepada ibu, “Buk, di sini sudah banyak ya kejadian begitu?” Kata ibu saya, beliau juga baru menemukan kejadian ini sekali ini. Saya manggut-manggut. Tapi perasaan masih sedikit aneh. Dalam pikiran saya, dalam bayangan saya, di kota sekecil Wonosobo, hal seperti itu adalah hal yang sedikit tak mungkin. Kenapa? Hm.. banyak alasan. Pertama, saya kira mayoritas orang di Wonosobo sejahtera. Paling tidak di beberapa lingkungan yang akrab dengan saya. Lingkungan rumah, lingkungan sekolah, atau lingkungan-lingkungan yang mainstream saya kunjungi ketika pulang kampung ke sini, alun-alun atau RITA, misalnya. Saya kira orang-orang di Wonosobo mampu, ketika saya harus mengantre berjam-jam (oke, ini hiperbola) ketika mau membayar di kasir swalayan dan ternyata mereka memang mengeluarkan banyak uang untuk berbelanja. Kedua, saya ingat Pak Bupati kami adalah salah satu bupati yang dianggap berhasil membangun kota hingga beliau kerap diundang memberi kuliah di mana-mana. Lihat saja infrastruktur-infrastruktur yang disulapnya menjadi enak dan nyaman. Taman kota, alun-alun… pusat kota yang bagus dan elok. Saya kira hal itu terjadi di seluruh daerah di Wonosobo. Dan ketiga, menurut saya orang Wonosobo itu tipe orang Jawa sejati. Pemalu dan rikuh-pakewuhan. Dan sedikit gengsi. (Oke, sekali lagi ini menurut saya). Saya ingat sewaktu saya masih menjadi bocah SD, saya lupa meminta uang saku kepada ibu. Bekalpun lupa terbawa, padahal hari itu ada kelas tambahan sampai sore. Selama satu hari itu saya bertahan untuk tidak jajan. Teman-teman saya banyak yang sadar bahwa saya dari istirahat jam pertama tidak makan, lalu mereka menawari saya untuk meminjam uang. Saya malu. Dan gengsi. Saya menolak dan berbohong saya sedang puasa. Saya malu jika dikira saya tak punya uang dan butuh dibelaskasihi. Gengsi tingkat anak SD yang ketinggian. Jadi, saya kira anak kecil tadi paling tidak memiliki emosi dan mental yang sama dengan saya saat SD. Anak Jawa asli.

Kembali ke cerita adik kecil tadi. “Kayaknya kalau dilihat dari baju dan wajahnya, dia masih tidur di rumah, ya Bu?” tanya saya retoris. “Iya lah, di Wonosobo nggak mungkin ada yang mau tidur di luar” Ibu menjawab dengan sedikit guyon. Sayapun mesem saja. Berarti kalau saya boleh menarik kesimpulan asal-asalan, si adik itu bukanlah gelandangan yang tidur di emperan atau kolong jembatan seperti kebanyakan yang terlihat di Jakarta. Lalu dengan penalaran-penalaran yang saya sebut di paragraf atas yang ternyata tidak sesuai dengan realita yang baru saya alami, saya kemudian teringat tentang (judul) artikel koran (yang dikirim kawan lewat WhatsApp) yang memberitakan bahwa Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah. Saya tidak tahu isinya tepatnya seperti apa, walaupun saya akhirnya membaca summary artikel itu saya masih tidak paham dengan istilah ekonomi dan angka-angkanya. Yang jelas yang saya tahu Wonosobo adalah kabupaten termiskin di Jawa Tengah.

Si adik yang dalam pandangan saya bukanlah seorang gelandangan dan pengemis ‘asli’ seperti yang saya lihat kebanyakan di ibukota mungkin adalah salah satu anak yang karena terhimpit oleh keadaan memberanikan diri untuk meminta-minta di jalan yang tak begitu ramai di pusat kota Wonosobo. Keterhimpitan itu pula yang akhirnya menyingkirkan rasa rikuh-pakewuh, malu, dan gengsi a la orang Jawa (stereotipe sih ) untuk meminta belas kasih demi sebungkus nasi, menurut saya. Saya sebenarnya tidak tahu secara pasti seberapa miskin kemiskinan itu di Wonosobo, sehingga kebupaten tercinta ini mendapatkan predikat itu. Namun dengan sekelebat kejadian siang ini sedikit membuka mata saya tentang semiskin itu kemiskinan di kota kecil ini. Sampel yang riil dan sederhana untuk saya, dan bukan angka-angka yang tak saya pahami di artikel koran itu.

Dan, saya kira kebingungan sesaat yang saya alami atas kejadian siang ini semata karena kekolotan saya dan kekuperan saya untuk mengenal daerah ini dengan baik. Saya sempat tercenung, memikirkan betapa saya tidak tahu tentang daerah yang dalam beberapa bulan terakhir ini dengan getol saya (usahakan) bangun dengan organisasi saya, Wonosobo Muda. Hmm.

Siang tadi sebenarnya saya ingin bertanya kepada adik itu tentang dirinya, ah namun sayang ia keburu masuk ke keramaian lorong pasar..

29 September 2015